WULANG SUNU

NAMA DAN JENIS KESENIAN

Secara etimologi, istilah Wulang Sunu terdiri atas 2 buah kata, yaitu wulang / piwulang (ajaran) dan sunu (anak, bocah, anak didik). Dalam istilah kesenian, wulang sunu berarti ajaran (petuh) tentang kehidupan manusia yang dimulai sejak masih dalam kandungan hingga meninggal dengan segala rangkaian upacara yang terjadi pada dirinya yang diberikan kepada anak, murid, atau siapa saja yang berminat, di mana ajaran tersebut diambil dari buku “Wulang Sunu” tulisan Paku Buwana IV.Wulang Sunu merupakan jenis kesenian tradisional yang disampaikan dalam bentuk tarian dan nyanyian (tembang) rakyat.

ASAL DAERAH WULANG SUNU

Seni Wulang Sunu tidak dapat diketahui asal dan siapa penciptanya sebab tidak ada data-data sejarah atau informasi lainnya yang dapat menunjukkannya. Namun, kesenian ini tumbuh dan berkembang di Kecamatan Grabag, tepatnya di Dukuh Karang, Desa Sumurarum, Magelang, Jawa Tengah. Ciri khas seni rakyat tradisional Wulang Sunu ialah :

- Syair nyanyiannya mengambil dari buku ‘Wulang Sunu” tulisan susuhunan Paku Buwana IV

- Penampilan gerak-gerik tari dan tata pentasnya adalah khas daerah Kabupaten Magelang

- Tabuhan instrumen perkusinya adalah khas garapan Kabupaten Magelang.

MATERI DAN POLA PENGGARAPAN

a. Pemain

Para pemain umumnya ialah orang-orang pedesaan yang semuanya terdiri dari kaum laki-laki. Para penari (dalam arti merangkap sebagai vokalis), kebanyakan para pemuda berusia sekitar 20 hingga 25 tahun. Pemain musik (penabuh) dan bawa berusia lebih tua, yaitu berkisar antara 30-50 tahun. Jumlah pemain lazimnya terdiri dari :

a. Penari merangkap vokalis : 18 orang

b. Penari Dewi Sri dan Dayang : 2 orang

c. Pemain musik / penabuh : 5 orang

d. Bawa : 1 orang (bisa lebih)

b. Tari

Bentuk tari yang dibawakan adalah berupa gerak-gerak sederhana yang sering diulang-ulang menyesuaikan dengan irama lagu yang mengiringinya. Posisi kakinya sering terbuka tetapi sering pula tertutup, sedangkan posisi lengannya adalah sedang dan rendah. Tarian disajikan dengan posisi duduk, membungkuk (setengah berdiri), dan berdiri. Desain yang digunakan dalam menari sering membentuk garis lurus, berputar, dan 2 lingkaran kecil. Sambil menari, penyanyi menyanyikan lagu yang setiap lagu didahului oleh Bawa.

c. Musik / Iringan

Adapun musik / iringan tarinya ialah :

Musik vokal, berupa nyanyian (tembang) yang syair-syairnya berisi ajaran mengenai kehidupan manusia sejak berada dalam kandungan hingga meninggal dengan segala rangkaian upacara yang berlaku pada dirinya. Laras yang dipakai adalah Slendro dan Pelog dengan iringan oleh tetabuhan alat-alat perkusi dalam irama dan ritme yang monoton.

d. Alat-alat Musik / Gamelan

Seni Wulang Sunu menggunakan beberapa alat musik / gamelan antara lain :

· 2 buah terbang kecil (kempling), berfungsi sebagai pengatur irama

· 1 buah terbang banggen yang berfungsi sebagai pemangku irama (kempul)

· 1 buah terbang besar (jidor) berfungsi sebagai gong

· 1 buah kendang ketipung yang berfungsi sebagai pamurba irama.

Adapun alat-alat tersebut dibuat dari bahan kayu, kulit, rotan, dan paku. Bentuk dan cara pembuatannya ialah :

· Terbang, dibuat dari bahan kayu sawo, berbentuk bulat. Pada bagian sisinya yang sebelah, dipasang kulit (biasanya dibuat dari kulit kambing) dan cara memasang kulitnya dipaku dengan paku yang berbentuk seperti pinus.

· Kendang berukuran sedang, dibuat dari bahan kayu sawo atau nangka, berbentuk bulat agak panjang (± 60cm) dan pada kedua sisinya dipasang kulit (biasanya dari kulit kambing). Untuk mengencangkan atau mengendorkan suara, diberi janget dari bahan kulit sapi yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat masuk di antara tebokan (pasangan kulit) dan kayu.

Cara menabuh (menimbulkan suara) alat-alat tersebut adalah dengan dipukul (ditabuh) dengan memakai tangan, kecuali terbang besar yang berfungsi sebagai jidor. Pada saat menabuh, alat-alat itu ditaruh di atas kursi yang tidak terpisah dengan lantai / arena tempat menari.

e. Dialog

sesuai dengan bentuknya, seni Wulang Sunu ini tidak menggunakan dialog, namun memakai nyanyian (tembang) yang syair-syairnya memakai bahasa daerah Jawa.

f. Cerita

Seni Wulang Sunu ini sama sekali tidak membawakan cerita apapun, melainkan hanya membawakan gerak-gerak tari sederhana yang diiringi nyannyian dengan syair-syair berisi ajaran yang diambil dari buku “Wulang Sunu” karya Paku Buwana IV.

g. Urutan Penyajian

¨ Pembukaan

Sebelum pentas dimulai, didahului dengan penyajian tabuhan instrumen secara monoton yang berfungsi sebagai pembukaan dengan tujuan mendatangkan penonton.

¨ Penampilan Tarian

1. Tabuhan dibunyikan, para penari keluar dengan formasi berbaris berbanjar dua. Fungsi tabuhan hanya sebagai pengatur irama jalannya para penari menuju tempat pementasan.

2. Apabila para penari telah sampai di tempat pemetasan, tabuhan dihentikan (suwuk). Para penari duduk bersila dengan formasi berbanjar dua seperti pada saat keluar.

3. Lagu pambagya (pemberian salam kepada penonton) dinyanyikan oleh dalang dibarengi dengan tabuhan. Apabila dalang selesai menyanyikannya maka para penari menarikan sembahan sambil menyanyi seperti yang dinyanyikan oleh dalang tadi.

4. Lagu kedua yang merupakan perkenalan kesenian itu dinyanyikan oleh dalang diiringi tabuhan. Penari masih bersikap duduk bersila. Saat lagu hampir habis, para penari mengambil sikap jengkeng (duduk di atas tumit kiri, tumit yang lain terletak di tanah agak di depan, lutut membentuk sudut ± 90°. Apabila lagu yang dinyanyikan dalang telah selesai, maka penari menari dalam sikap jengkeng.

5. Lagu ketiga dan selanjutnya dimainkan seperti lagu-lagu / tarian sebelumnya, yaitu didahului oleh dalang kemudian ditirukan oleh para penari sambil menari dalam sikap berdiri.

6. Pada nyanyian-nyanyian tertentu penari tidak hanya menari di tempat mereka berdiri, melainkan sambil berjalan ke arah depan, belakang, depan lagi, hingga akhirnya formasi barisan kembali seperti semula. Pada nyanyian tertentu pula mereka menari sambil membentuk formasi lingkaran.

7. Apabila telah sampai pada syair yang berisikan hal-hal yang bersangkutan dengan soal pertanian, maka ditampilkan peraga Dewi Sri dengan dayang-dayangnya yang kedua-duanya dimainkan oleh pria yang berdandan sebagai wanita. Keduanya menari0nari di tengah lingkaran tersebut.

h. Tempat, Waktu, dan Lamanya Pentas

Untuk penyajian seni Wulang Sunu ini dapat diselenggarakan di tempat / arena yang berukuran ± 8 X 6 meter sebab gerakan tarinya tidak begitu banyak memerlukan ruang gerak. Oleh karena itu, seni ini dapat diadakan di lapangan, tanah-tanah kosong, halaman rumah, pendopo, bahkan di ruang depan rumah asalkan memenuhi ukuran tersebut.

Waktu pementasan biasanya diselenggarakan pada malam hari dan lama pentas tergantung pada kebutuhan / permintaan pihak penyelenggara. Apabila pentas lengkap, dapat memakan waktu hingga semalam suntuk (± 7-8jam), yakni antara pukul 21.00 – 05.00, sedangkan kalau tidak lengkap bisa 2-3 jam.

SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA

Seni Wulang Sunu tidak dapat diketahui dari mana asalnya dan siapa penciptanya sebab tidak ada data-data sejarah ataupun informasi yang menerangkannya. Namun, kesenian ini yang jelas telah timbul setelah terbitnya buku “Wulang Sunu” karya Paku Buwana IV pada sekitar akhir abad ke-18.

Latar belakang timbulnya seni Wulang Sunu ialah karena pada waktu itu masih jarang ada orang yang pandai membaca dan menulis, lebih-lebih pada masyarakat pedesaan sehingga penyebaran isi (ajaran) buku ‘Wulang Sunu” karya Paku Buwana IV ini mengalami kesulitan. Untuk memudahkan memahami isi buku tersebut, maka penyebarannya dilakukan lewat media kesenian yang kemudian dikenal dengan seni Wulang Sunu.

Seni Wulang Sunu yang tumbuh dan berkembang di Dukuh Karang, Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag ini lahir untuk pertama kalinya pada tahun 1966 yang dikembangkan oleh Marwan, salah satu pelatih seni Wulang Sunu yang berasal dari Desa Tanduran Kecamatan Secang Kabupaten Magelang ketika ia berusia 60 tahun, atas permintaan warga Dukuh Karang. Pada tahun 1967 untuk pertama kalinya seni Wulang Sunu di bawah asuhan Marwan mengadakan pementasan di halaman rumah Kepala Desa Sumurarum dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan 17 Agustus dengan bentuk dan tata pentas yang sangat sederhana. Gerak tari, pola lantai, kostum, dan tata riasnya masih sangat sederhana.

Pada pentas berikutnya, digunakan sebagai hiburan dalam peresmian Musholla, bersih desa atau sedekah bumi (upacara keselamatan bagi penduduk desa) yang dilakukan setahu sekali usai panen, memeriahkan orang yang memiliki hajat (misalnya perkawinan, sunatan, dsb), dan untuk keperluan nadzar (kaul).

Dalam perkembangan berikutnya, seni Wulang Sunu diolah menjadi lebih sempurna. Gerak-gerak tarinya digarap dengan lebih baik. Ketika menari telah banyak menggunakan desain lantai dengan gerakan berputar, 2 lingkaran kecil di samping desain lantai garis lurus yang telah digunakan sebelumnya. Di samping itu, kostum dan tata rias juga mengalami peningkatan. Sehingga, fungsi dalam masyarakatpun mengalami peningkatan. Pada suatu saat pernah ditanggap keluar desa bahkan keluar kecamatan, yaitu di Desa Pucang Kecamatan Secang dalam rangka memeriahkan (hiburan) dalam pelaksanaan hajat khitanan dan untuk kedua kalinya ditanggap pula di desa yang sama dalam rangka memeriahkan upacara penutupan / tamat mengaji (khatam Al Qur’an). Bahkan, pada tahun 1980 dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi 17 Agustus yang diselenggarakan di Kecamatan Grabag telah mendapat Piagam Penghargaan dari Panitia Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus tingkat Kecamatan Grabag.

SUMBER :

Proyek Inventarisasi Kebudayaan Daerah Jawa Tengah Khususnya Kesenian Jawa Tengah. 1984. Mengenali Beberapa Seni Tradisional Daerah Jawa Tengah.

0 komentar:

Blogger Templates by Blog Forum