Surat untuk Kekasih

Aku tak pernah paham tentang janji kelingking itu. Sesekali aku menganggapnya sebagai sebuah cita-cita yang kita rajut untuk kita wujudkan bersama suatu hari nanti. Tapi terkadang kegamangan membawaku kembali pada realitas kesadaran, bahwa mungkin janji kelingking itu hanya sebuah proyeksi bayangan dari perasaan kita yang sama-sama kuat. Ya, hanya sebuah proyeksi bayangan.

Aku sadar selama ini kita telah jauh melangkah. Kita melampaui takdir dengan membangun batas pagar untuk diri kita sendiri demi janji kelingking itu. Sayangnya, untuk pondasi saja kita harus sering mengonta-gantinya. Ya, ternyata kita lemah dalam membangun pondasi. Janji kelingking itu mungkin telah kita patri dalam alam bawah sadar kita, sehingga banyak kejanggalan yang kita temukan dalam perjalanan pembuatan batas pagar itu.

Terima kasih untuk mengajariku tentang indahnya arti hidup dan cara mempertahankan hidup itu. Bagiku kau sempurna dalam hidupmu. Kau adalah hidup itu sendiri. Yang diperjuangkan, mengalami kegagalan, bangkit lagi, gagal lagi, bangkit lagi, diperjuangkan lagi, dan terus seperti itu. Ya, kau adalah hidup itu sendiri. Penuh perjuangan dan cinta. Tak pernah mengeluh, padahal nampak jelas garis kelelahan di raut wajahmu.

Sebenarnya, aku masih ingin memeluk lelehan keringat lelahmu. Karena kutahu, aku takkan pernah mendapatimu dalam linangan air mata untuk kuhapus. Namun sekali lagi janji kelingking itu mengabur seperti kabut yang lagi-lagi berurusan dengan cara pandang kita. Dan kini tiba-tiba semua terasa begitu berat bagiku, tak seperti yang telah lalu.

Aku tak mengikhlaskanmu pergi kali ini bukan karena aku takut kau akan merajut janji kelingking dengan yang lain suatu saat nanti. Tapi karena aku tau kau masih menyimpan darah, keringat, luka, dan mungkin air mata dalam hidupmu. Aku masih ingin menemani perjalananmu menapaki tangga kehidupan hingga kau sampai di puncak kebahagiaan, di mana cita-cita yang pernah kau rajut bersama ibumu tak lagi berbentuk mimpi. Setelah itu, mungkin aku bisa mengikhlaskanmu pergi dari janji kelingking kita.

Tapi kali ini keputusanmu sudah bulat. Terakhir, kau pun berkata padaku :
“Aku akan kuat menjalani semuanya dalam kesendirian. Sejak kecil, aku telah belajar banyak dari kerasnya hidup ini. Suatu saat kau akan mengerti bahwa kau perlu keras terhadap dirimu sendiri. Bila tidak, maka orang lain yang akan keras terhadapmu.”

Aku tak dapat menahanmu lagi. Tersenyumlah, legakan aku yang merasa bersalah padamu. Terima kasih untuk cinta dan ajaran hidup yang kau tunjukkan untukku. Tulus sembah doaku iringi almarhum kedua orangtua dan masa depanmu. Aku akan sangat merindukanmu.

Semarang, 27112008_03:00

Pigura dan Foto

Hari ini, kukembalikan cincin pengikat itu. Pertanda tak ada lagi kisah di antara kita. Aku tahu kau melakukan semuanya karena terluka. Terluka atas diriku yang tak mengerti semua ini, tentang ‘kekosongan’ yang selalu kau dendangkan. Bukan karena sebuah permainan, tetapi lebih pada takdir yang kita lukis sendiri.

Aku percaya saat rahim membendung kita, Tuhan telah menentukan jalan yang akan kita tempuh di depan nanti. Sayangnya, mungkin kita telah sedikit melencengkan arah jalan itu pada masa lalu, hingga kita pun memperbanyak foto perjalanan ini.

Dan sekarang, ketika teguran itu datang, kita hanya bisa sama-sama berharap semua perjalanan yang kita rekam dalam foto-foto itu hanyalah sebuah mimpi yang singgah dalam tidur malam kita.

Dan esok, ketika kita sama-sama bertemu dengan embun dan terbangun dari tidur yang telah mengejawantahkan banyak makna hidup dan cinta ini, kita akan mendapati diri kita tersenyum, tanpa merasakan adanya beban bila kenangan perjalanan itu datang kembali dan menjelma sebagai sosok anggun yang dapat melemahkan hati kita kembali.

Ya, mungkin sebentar lagi mimpi-mimpi perjalanan itu akan terbingkai dalam pigura foto di relung-relung hati kita. Kapanpun kita dapat memandangnya dengan berbagai perasaan yang mungkin membawa kita pada angin-angin yang telah terbawa kabut tak tentu arah, namun takkan pernah bisa mengabur dari hidung kita.

Mungkin pada akhirnya semua hanya akan nampak sebagai foto yang terpajang, yang merekam masa lalu kita, yang hanya dapat kita peluk sebatas pigura. Pigura yang tak bernyawa, tak bergerak, namun menghidupkan yang telah mati dalam kenangan.

Mungkin kau benar, kita hanya perlu menyimpan foto itu di sebuah bingkai pigura yang indah. Aku hargai pendapatmu. Tapi, tak semudah itu menempelkan foto yang selama empat tahun ini bernafas, ke dalam bingkai pigura. Karena itu berarti mati.

Aku sadar suatu hari mungkin keusangan foto itu akan membawa tusukan pada jantung-jantung kita yang terlanjur menghitam. Namun, kita juga tak pernah tahu seandainya di depan nanti, Tuhan mengembalikan jalan yang sempat kita usik pada arah yang ditakdirkan. Dan ketika waktu itu datang, kuharap kita akan menemukan takdir kita masing-masing.

27112008_20.03

Blogger Templates by Blog Forum