<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011</id><updated>2011-07-31T07:34:48.970+07:00</updated><title type='text'>bintang2laut</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>15</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-1778527848001768477</id><published>2009-01-21T14:40:00.002+07:00</published><updated>2009-01-21T14:48:24.755+07:00</updated><title type='text'>bertapa</title><content type='html'>akyu mahu istirahat dulu ach..&lt;br /&gt;bertapa buat nyari objek skripsi yang tepat buat akyu...&lt;br /&gt;doain dunkz biar cepet dapet...&lt;br /&gt;=)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-1778527848001768477?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/1778527848001768477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=1778527848001768477' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/1778527848001768477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/1778527848001768477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2009/01/bertapa.html' title='bertapa'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-4763893009855371130</id><published>2008-12-04T17:07:00.000+07:00</published><updated>2008-12-04T17:08:20.854+07:00</updated><title type='text'>Surat untuk Kekasih</title><content type='html'>Aku tak pernah paham tentang janji kelingking itu. Sesekali aku menganggapnya sebagai sebuah cita-cita yang kita rajut untuk kita wujudkan bersama suatu hari nanti. Tapi terkadang kegamangan membawaku kembali pada realitas kesadaran, bahwa mungkin janji kelingking itu hanya sebuah proyeksi bayangan dari perasaan kita yang sama-sama kuat. Ya, hanya sebuah proyeksi bayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar selama ini kita telah jauh melangkah. Kita melampaui takdir dengan membangun batas pagar untuk diri kita sendiri demi janji kelingking itu. Sayangnya, untuk pondasi saja kita harus sering mengonta-gantinya. Ya, ternyata kita lemah dalam membangun pondasi. Janji kelingking itu mungkin telah kita patri dalam alam bawah sadar kita, sehingga banyak kejanggalan yang kita temukan dalam perjalanan pembuatan batas pagar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk mengajariku tentang indahnya arti hidup dan cara mempertahankan hidup itu. Bagiku kau sempurna dalam hidupmu. Kau adalah hidup itu sendiri. Yang diperjuangkan, mengalami kegagalan, bangkit lagi, gagal lagi, bangkit lagi, diperjuangkan lagi, dan terus seperti itu. Ya, kau adalah hidup itu sendiri. Penuh perjuangan dan cinta. Tak pernah mengeluh, padahal nampak jelas garis kelelahan di raut wajahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku masih ingin memeluk lelehan keringat lelahmu. Karena kutahu, aku takkan pernah mendapatimu dalam linangan air mata untuk kuhapus. Namun sekali lagi janji kelingking itu mengabur seperti kabut yang lagi-lagi berurusan dengan cara pandang kita. Dan kini tiba-tiba semua terasa begitu berat bagiku, tak seperti yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mengikhlaskanmu pergi kali ini bukan karena aku takut kau akan merajut janji kelingking dengan yang lain suatu saat nanti. Tapi karena aku tau kau masih menyimpan darah, keringat, luka, dan mungkin air mata dalam hidupmu. Aku masih ingin menemani perjalananmu menapaki tangga kehidupan hingga kau sampai di puncak kebahagiaan, di mana cita-cita yang pernah kau rajut bersama ibumu tak lagi berbentuk mimpi. Setelah itu, mungkin aku bisa mengikhlaskanmu pergi dari janji kelingking kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kali ini keputusanmu sudah bulat. Terakhir, kau pun berkata padaku :&lt;br /&gt;“Aku akan kuat menjalani semuanya dalam kesendirian. Sejak kecil, aku telah belajar banyak dari kerasnya hidup ini. Suatu saat kau akan mengerti bahwa kau perlu keras terhadap dirimu sendiri. Bila tidak, maka orang lain yang akan keras terhadapmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak dapat menahanmu lagi. Tersenyumlah, legakan aku yang merasa bersalah padamu. Terima kasih untuk cinta dan ajaran hidup yang kau tunjukkan untukku. Tulus sembah doaku iringi almarhum kedua orangtua dan masa depanmu. Aku akan sangat merindukanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang, 27112008_03:00&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-4763893009855371130?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/4763893009855371130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=4763893009855371130' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/4763893009855371130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/4763893009855371130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/12/surat-untuk-kekasih.html' title='Surat untuk Kekasih'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-830564757816663201</id><published>2008-12-04T16:59:00.002+07:00</published><updated>2008-12-04T17:06:54.858+07:00</updated><title type='text'>Pigura dan Foto</title><content type='html'>Hari ini, kukembalikan cincin pengikat itu. Pertanda tak ada lagi kisah di antara kita. Aku tahu kau melakukan semuanya karena terluka. Terluka atas diriku yang tak mengerti semua ini, tentang ‘kekosongan’ yang selalu kau dendangkan. Bukan karena sebuah permainan, tetapi lebih pada takdir yang kita lukis sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku percaya saat rahim membendung kita, Tuhan telah menentukan jalan yang akan kita tempuh di depan nanti. Sayangnya, mungkin kita telah sedikit melencengkan arah jalan itu pada masa lalu, hingga kita pun memperbanyak foto perjalanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, ketika teguran itu datang, kita hanya bisa sama-sama berharap semua perjalanan yang kita rekam dalam foto-foto itu hanyalah sebuah mimpi yang singgah dalam tidur malam kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan esok, ketika kita sama-sama bertemu dengan embun dan terbangun dari tidur yang telah mengejawantahkan banyak makna hidup dan cinta ini, kita akan mendapati diri kita tersenyum, tanpa merasakan adanya beban bila kenangan perjalanan itu datang kembali dan menjelma sebagai sosok  anggun yang dapat  melemahkan hati kita kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mungkin sebentar lagi mimpi-mimpi perjalanan itu akan terbingkai dalam pigura foto di relung-relung hati kita. Kapanpun kita dapat memandangnya dengan berbagai perasaan yang mungkin membawa kita pada angin-angin yang telah terbawa kabut tak tentu arah, namun takkan pernah bisa mengabur dari hidung kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pada akhirnya semua hanya akan nampak sebagai foto yang terpajang, yang merekam masa lalu kita, yang hanya dapat kita peluk sebatas pigura. Pigura yang tak bernyawa, tak bergerak, namun menghidupkan yang telah mati dalam kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kau benar, kita hanya perlu menyimpan foto itu di sebuah bingkai pigura yang indah. Aku hargai pendapatmu. Tapi, tak semudah itu menempelkan foto yang selama empat tahun ini bernafas, ke dalam bingkai pigura. Karena itu berarti mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar suatu hari mungkin keusangan foto itu akan membawa tusukan pada jantung-jantung kita yang terlanjur menghitam. Namun, kita juga tak pernah tahu seandainya di depan nanti, Tuhan mengembalikan jalan yang sempat kita usik pada arah yang ditakdirkan. Dan ketika waktu itu datang, kuharap kita akan menemukan takdir kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 27112008_20.03&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: webdings;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: webdings;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-830564757816663201?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/830564757816663201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=830564757816663201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/830564757816663201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/830564757816663201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/12/pigura-dan-foto.html' title='Pigura dan Foto'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-1698371125030804154</id><published>2008-11-11T14:31:00.002+07:00</published><updated>2008-11-11T14:36:55.839+07:00</updated><title type='text'>Sepi lan Rame  ing Bawana</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Kaping lima tapaning suksma puniku&lt;br /&gt;Gelara marta-martani&lt;br /&gt;Lega legawa ing kalbu&lt;br /&gt;Aja munasikeng janmi&lt;br /&gt;Amoga atining wong&lt;br /&gt;(R. Ng. Ranggawarsita : Serat Soponalya)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Wejangan berupa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;tapa suksma &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;dari seorang pujangga keraton Solo itu mengingatkan kita bahwa etika kebijaksanaan hidup dalam masyarakat Jawa kini condong pada perpecahan, sehingga masyarakat pun tidak dapat menemukan lagi jati dirinya secara utuh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Seorang ayah dari kalangan pemulung,&lt;br /&gt;sambil menitikkan air mata,&lt;br /&gt;menggendong mayat anak lima bulannya,&lt;br /&gt;mengelilingi kota Jakarta seharian&lt;br /&gt;untuk mencari welas asih&lt;br /&gt;agar mendapat lahan gratis satu kali dua meter&lt;br /&gt;untuk mengubur jasad buah hatinya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Sepi ing pamrih,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Keadaan benar-benar menjadi sepi karena tak tertanam lagi sikap &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;lembah manah &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;(rendah hati) pada masyarakat yang mendorong adanya keinginan untuk peduli pada penderitaan orang lain.&lt;br /&gt;Bagaimana orang bisa berpamrih, kalau keinginan untuk peduli dan menolong saja tidak ada?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Seorang ibu rumah tangga di Lamongan  meracuni ketiga anaknya&lt;br /&gt;karena tidak sanggup melihat buah hatinya kelaparan&lt;br /&gt;di antara tembok-tembok rumah mewah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Sepi ing pamrih,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Sosialisasi dalam masyarakat akan sikap &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;tepo seliro &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;yang selalu diagungkan dalam konsep etika masyarakat Jawa kini hanya tinggal simbol dari sebuah keengganan masyarakat dalam memaknai hubungan timbal-balik dalam ranah sosial belaka.&lt;br /&gt;Tak ada lagi sikap penempatan diri sebagai manusia lain, sehingga tak berlaku pula ungkapan “Seandainya saya menjadi orang itu, saya juga tidak mahu mengalami penderitaan seperti itu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Seorang pengajar spiritual di Jombang membunuh puluhan orang&lt;br /&gt;secara sadis dengan memotong bagian-bagian tubuh korbannya&lt;br /&gt;demi segenggam harta&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Rame ing gawe,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Tak lagi bermakna gotong royong demi kerukunan bersama. Namun, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;rame&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt; demi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;gawe &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;(nya) sendiri. Alias egois.&lt;br /&gt;Hanya demi materi orang mampu mengesampingkan nilai-nilai moral sehingga menimbulkan konflik bagi pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Rame &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;dengan berbagai usaha untuk menjalankan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;gawe &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;(nya) menumpuk materi yang sifatnya fana (sesaat).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Di Monas, sekelompok organisasi melempari sekelompok organisasi lain&lt;br /&gt;dengan batu hingga berdarah,&lt;br /&gt;kemudian secara membabi-buta memukulinya&lt;br /&gt;hingga meninggalkan bekas luka di badan dan  di hati&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Rame ing gawe,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar bersama bahu-membahu dan beramai-ramai memberantas segala yang tidak sepaham dengannya secara anarkis, demi mewujudkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;gawe &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;(nya) menonjolkan diri sebagai ‘yang paling benar’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Meniru Akio Morita,&lt;br /&gt;Seorang pengusaha sukses asal Bedono, 43 tahun&lt;br /&gt;Mengader calon general manager penerus usahanya&lt;br /&gt;Dengan menikahi gadis belasan tahun secara sirri&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;Memayu hayuning bawana,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Manusia semakin nekat menghiasi dan memerindah dunia dengan masalah-masalah yang memicu terjadinya konflik dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Menghilangkan bentuk-bentuk kewajiban terhadap keturunannya, masyarakat, dan pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Penyimpangan-penyimpangan terhadap falsafah etika hidup Jawa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;sepi ing pamrih, rame ing gawe, memayu hayuning bawana &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;akan mengikis nilai-nilai moral yang telah menjadi watak masyarakat Jawa. Jika kedua konsep tersebut telah disalah-artikan oleh sekelompok masyarakat tertentu, maka tugas wajib bagi masyarakat yang lain untuk mengingatkan dan mengembalikannya ke arah yang benar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Penggerogotan nilai-nilai sosial yang menjadi identitas suatu kolektif menimbulkan hilangnya jati diri kolektif tersebut. Apabila hal ini terjadi, maka itulah yang akan menjadi tanda-tanda kehancuran suatu tatanan sosial, yang akhirnya bermuara pula pada kehancuran suatu peradaban.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="color:#198a8a;"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;i&gt;04102008&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-1698371125030804154?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/1698371125030804154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=1698371125030804154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/1698371125030804154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/1698371125030804154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/11/sepi-lan-rame-ing-bawana.html' title='Sepi lan Rame  ing Bawana'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-5781557658535072888</id><published>2008-11-11T14:00:00.000+07:00</published><updated>2008-11-11T14:11:09.467+07:00</updated><title type='text'>sobokartti</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; Sekilas, nampa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;k tak ada yang spesial saat saya duduk di halte daerah Jalan Dr. Cipto 31-33 Semarang. Tak ada rutinitas ataupun suatu hal yang dapat menarik mata untuk melihat ataupun memperhatikannya. Kendaraan berlalu-lalang silih-berganti, seorang pedagang tengah sibuk meladeni pembelinya di warung tenda yang sempit, dan beberapa kendaraan bermotor yang agaknya memiliki masalah dalam hal permesinan memadati bengkel ”Palupi” di seberang jalan. Namun, ketika pandangan saya tertuju pada sebuah papan nama yang terpasang di antara gang masuk yang sempit ---sekitar 2 meter lebarnya --- mata ini langsung menarik kaki saya untuk memasuki kawasan di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;PERKUMPULAN KESENIAN ”SOBOKARTTI”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;(De Volks Kunst Vereeniging Sobokartti Semarang)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;TANAH DAN GEDUNG KESENIAN SOBOKARTTI YANG BERNILAI BUDAYA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;SEJARAH BANGSA, DAN NEGARA JL. DR. CIPTO 31 – 33 SEMARANG&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;TIDAK AKAN DIJUAL KEPADA SIAPAPUN ORANG-ORANGNYA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;HARAP MAKLUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;BATAVIA 1929 – SEMARANG&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; Demikianlah bunyi tulisan yang terpampang pada papan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; nama  tersebut. Tulisan itulah yang menuntut keingintahuan saya untuk menilik lebih jauh apa sebenarnya ”Sobokartti” itu. Dengan langkah penuh kepenasaran, akhirnya saya berjalan memasuki gang sempit itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; Teduhnya sinar matahari sore membuat seorang bocah lelaki, dengan topi biru yang dikenakannya secara terbalik, bersemangat mengencangkan laju sepedanya untuk mengitari lapangan yang ditumbuhi rumput. Meskipun rumput-rumput yang sebagian telah menguning dan tumbuh sekitar 10-15 cm, mengisyaratkan bahwa kurang adanya perawatan, namun secara keseluruhan kawasan itu nampak asri. Hampir tak terlihat ada sampah berserakan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; Angin yang berhembus tidak terlalu kencang mampu menerbangkan dua layang-layang segi empat di tangan dua lelaki remaja. Seorang bocah berok merah sepaha menyaksikannya di depang warung makan di ujung selatan lapangan yang berpagar tembok-tembok rumah tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Sementara itu, di sisi barat terdapat sebuah bangunan kuno yang melebar pada sisi depannya. Pintunya terbuat dari kayu bermodel enam lipatan. Pada sisi kanan dan kiri pintu terdapat jendela-jendela teralis bercat putih yang memanjang ke bawah. Secara keseluruhan, bangunan kuno itu berwarna coklat. Kombinasi coklat muda dan coklat tua yang dipadu dengan hijaunya pohon-pohon di sekitarnya membuat kesan harmonis dan selaras dengan alam. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Begitu masuk ke &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;bagian depan bangunan kuno itu, gemuruh suara anak-anak, laki-laki dan perempuan, terdengar riang. Beberapa bermain &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;bekelan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; di lantai, ada juga yang berlarian tanpa arah yang jelas, dan sebagian lainnya fokus pada permainan karet.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Pada bagian depan bangunan ini hanya ada enam tiang penyangga bangunan yang masih terlihat kokoh. Tak ada meja, kursi, dan perkakas lain sebab memang bukan sebuah ruang tamu. Dari bagian depan ini saya mulai mengerti bahwa bangunan tua tersebut adalah sebuah gedung perkumpulan seni sekaligus gedung pertunjukan. Pada bagian tengahnya nampak berjajar tiga loket untuk membeli karcis pertunjukan, yang sayangnya sudah tidak terpakai lagi kini. Debu tebal menyelimuti permukaan dinding-dindingnya. Di atas jajaran loket tersebut saya melihat lagi sebuah papan yang memampang nama ”Sobokartti”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Di sebelah kanan dan kiri loket terdapat dua buah pintu masuk. Saya pun memasuki pintu sebelah kanan. Di dalamnya ada sebuah ruangan besar dengan atapnya yang tinggi, yang digunakan sebagai tempat pertunjukan. Di sebelah timur ada sebuah panggung permanen yang menghadap ke barat dan di sisi utara dan selatan bangku-bangku kayu yang panjang berjajar rapi. Di atas jajaran bangku sebelah utara terdapat sebuah tempat yang digunakan untuk berlatih seni pedalangan sekaligus tempat menyimpan perkakas-perkakas pedalangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Sobokartti adalah sebuah perkumpulan kesenian rakyat yang aslinya bernama &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;De Volks Kunst Vereeniging Sobokartti Semarang. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Sobokartti selain digunakan sebagai nama perkumpulan kesenian di Semarang, ia juga digunakan sebagai nama gedung kesenian itu sendiri. Sobokartti didirikan di Jalan Dr. Cipto 31-33 Semarang pada 5 Oktober 1929, pada jaman Kolonial Belanda oleh para seniman-seniman yang pada waktu itu berdomisili di Semarang. Ir. Thomas Kartsen dari Belanda banyak berpengaruh dalam pembangunan gedung maupun managerial Sobokartti. Sobokartti sengaja didirikan di daerah Dr. Cipto sebab di sanalah para pahlawan perang pertempuran lima hari di Semarang dimakamkan. Jadi selain gedung yang bersejarah, perkumpulan seninya juga bersejarah.  Untuk pertama kalinya hingga kini, Sobokartti dipimpin oleh Andaryoko Wisnuprabu yang menjabat sebagai ketua umum dan Soetrisno sebagai sekretaris.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;Sobo&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; berarti bermain atau &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;dolan &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;karti&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; artinya bekerja. Sobokartti berarti bermain untuk bekerja dan bekerja untuk bermain. Tulisan Sobokartti memang memiliki “t” dobel sebab diambil dari mana Gubernur Belanda pada jaman itu. Nama Sobokartti sendiri diberikan oleh pemerintah setempat pada jaman dahulu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Meskipun Sobokartti berdiri di Semarang, namun pada perkembangannya juga mendapat dukungan dari Mangkunegaran, Surakarta. Dalam hal latihan, Sobokartti memiliki jadwal rutin yang telah disepakati oleh masing-masing anggotanya. Pada Jumat, pukul 20.00-23.00 WIB diadakan pelatihan karawitan. Sabtu, pukul 15.00-19.00 WIB ada kursus pedalangan. Minggu, pukul 09.00-13.00 WIB diadakan pelatihan pranata cara, dan pada hari Minggu pukul 13.00-17.30 WIB ialah jatah latihan untuk karawitan para ibu. Pada pelatihan seni tari Jawa, telah dibagi dalam beberapa kelas. Kelas anak-anak, kelas dewasa, dan juga kursus guru tari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Pada jaman dahulu, Sobokartti memang sangat terkenal. Bahkan ada stigma yang berkembang di kalangan seniman bahwa seseorang belum sah dinobatkan sebagai seniman dan memiliki ketenaran sebelum ia pentas di Sobokartti, sebab Sobokartti dianggap sebagai perkumpulan kesenian nomor satu di antara perkumpulan-perkumpulan kesenian lainnya di Jawa Tengah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Awalnya, Sobokartti adalah merupakan suatu sanggar yang menyajikan seni tari Jawa klasik gaya Surakarta untuk ditawarkan bagi masyarakat. Namun, pada perkembangannya Sobokartti juga menawarkan pelatihan karawitan, pelatihan pedalangan, serta pembatikan gaya Semarangan untuk mempertahankan kelangsungan Sobokartti sendiri.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Sebagaimana sanggar-sanggar kesenian pada umumnya, Sobokartti juga memiliki beberapa kendala yang menyebabkannya terpinggirkan oleh jaman. Beberapa masalah tersebut antara lain : masalah pendanaan, minat masyarakat sendiri yang semakin rendah untuk melestarikan budaya Jawa, makin beragamnya cara orang berlatih tari dan kesenian Jawa lain, serta makin menjamurnya sanggar-sanggar tari modern yang lebih diminati kaum muda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;dalam hal pendanaan, Sobokartti merupakan sebuah perkumpulan yang benar-benar hanya mengandalkan iuran anggota atau siswa. Jadi, dalam hal pengembangannya sendiri pun Sobokartti mengalami jatuh bangun dari kesulitan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Masalah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;kedua&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; ialah kurangnya minat dari masyarakat sendiri untuk melestarikan kesenian Jawa. Mereka umumnya telah terpengaruh oleh arus globalisasi yang lebih cenderung berpihak pada modernitas serta mencibir nilai kekunoan dari sebuah bentuk kesenian. Pada masa jayanya, para siswa Sobokartti dapat mencapai ratusan (hingga tiga ratusan siswa). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;di Semarang guru tari telah banyak lahir. Di sekolah-sekolah dasar misalnya, anak-anak sudah diajarkan seni tari. Banyak lulusan UNNES yang telah menjadi guru tari atau mengajar ekstrakulikuler tari di sekolah-sekolah, sehingga anak-anak tersebut tidak perlu lagi datang ke sanggar untuk berlatih tari. Mereka  cukup latihan tari di sekolahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;Keempat, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;makin banyaknya sanggar-sanggar kesenian yang lahir di Semarang membuat persaingan semakin ketat. Bahkan, Sobokartti yang dahulu sangat dipuja dan dinomorsatukan kini bagaikan ampas tebu yang ditinggalkan begitu saja seolah tak ada manfaatnya lagi. Sanggar tari modern nampaknya lebih diminati masyarakat karena dianggap lebih menjajikan dalam hal komersialisasinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Jatuh bangun mempertahankan Sobokartti telah dirasakan pada generasi penerusnya, sehingga beberapa cara ditempuh untuk mengusahakan tetap berdirinya perkumpulan kesenian itu. Ketika kepemimpinan Totok Pamungkas, pihaknya mengadakan kerjasama dengan kantor-kantor kecamatan serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan menyebarkan brosur-brosur, terutama pada saat penerimaan siswa baru. Selain itu, pada tiap kesempatan pentas, para murid Sobokartti dihimbau untuk menunjukkan bahwa mereka berasal dari perkumpulan kesenian Soboartti. Dengan melihat pentas mereka, diharapkan masyarakat akan memiliki ketertarikan dan ujung-ujungnya akan mencoba berlatih di Sobokartti. Langkah lainnya ialah mencoba bekerjasama dengan TVRI untuk menayangkan pementasan mereka. Namun, karena sekarang di layar kaca sudah tidak ada kapling untuk pementasan kesenian tradisional, maka kini lebih sulit mengembangkannya. Hal ini dikarenakan oleh minimumnya animo masyarakat yang telah tergeser oleh budaya asing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Usaha dalam hal kekreatifitasan diupayakan melalui cara pemadatan waktu dalam hal pedalangan, yakni ketika pementasan wayang. Cerita wayang yang mulanya lima jam diringkas menjadi satu jam dengan cerita yang padat dan isinya mendidik Tujuannya agar masyarakat yang menonton tidak terlalu jenuh karena ceritanya yang padat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Untuk seni tari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; sendiri, pihak Sobokartti telah mengusahakan tidak hanya menawarkan tari klasik. Namun, ada juga penawaran untuk tari kreasi, tari garapan, serta pengajaran tari-tari tradisional dari luar daerah (Sunda, Jawa Timur, Bali).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Perhatian dari pemerintah setempat memang ada, namun bantuan yang diberikan berupa dana terlalu kecil untuk mengembangkan Sobokartti. Dalam skala satu tahun, Sobokartti hanya mendapat bantuan sebesar Rp 2.000.000,00. Biasanya dana tersebut dimanfaatkan untuk merenovasi gedung. Masalahnya, di Semarang terdapat sekitar hampir 300 grup kesenian yang juga mendapat sumbangan dari pemerintah dengan sistem bergilir. Jadi, belum tentu setiap tahun  Sobokartti  mendapat giliran subsidi dana tersebut. Seandainya Sobokartti tidak membuat proposal, maka akan sangat mungkin bantuan itu tidak akan diterimanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Dari sekian kesenian yang dimiliki dan ditawarkan Sobokartti, karawitan adalah salah satu penyumbang terbaik dan terbanyak yang mengharumkan nama Sobokartti. Beberapa penghargaan yang pernah diraih lewat seni karawitan di bawah asuhan Soetrisno antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Tahun  1988-1989 Juara Harapan IV Lomba Karawitan Wilayah RRI Semarang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Tahun  1988-1989 Juara II Karawitan Pria Wilayah RRI Semarang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Tahun  1987-1987 Juara I Karawitan Pria Wilayah RRI Semarang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Tahun  1990-1991 Juara Harapan I Lomba Karawitan Wilayah RRI Semarang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Karawitan sendiri ialah sebuah seni gamelan dan seni suara yang bertangga nada slendro dan pelog. Personilnya terdiri atas  sekitar dua puluh empat Waranggono (pengambil suara perempuan), pesinden, dan pengrawit (penabuh kendang, gender, rebab, damung, saron gambang, beking, gong, kempul, kenong, rebab maupun siter).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Nyanyian yang mengiringi karawitan terdiri atas bermacam-macam gending. Gending-gending itu mencakup gending wancaran, ketawang, ladrang, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;gambir sawit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;, pangkur, kutut manggung,dll.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Perkembangan karawitan di Sobokartti sekarang diperkirakan sudah mulai maju pesat kembali sebab latihan semakin sering dilakukan dengan personil yang semakin beragam. Bahkan, pada hari Jumat telah ada latihan dari kerjasama dengan IKIP PGRI.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;Anggota pemain karawitan cukup beragam, mulai dari pensiunan PNS, sarjana, SPG, PGRI, hingga masyarakat biasa baik yang telah mengerti seni itu secara baik maupun yang sedang belajar dari nol.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Salah satu motto yang dipegang Sobokartti ialah tidak akan ada penjualan atas gedung Sobokartti, apapun masalah yang melatarbelakanginya. Ia adalah sebuah perkumpulan yang independen, keberlangsungannya tidak berdiri atas kepentingan sekelompok golongan, seperti partai politik misalnya. Pada jaman Golkar berjaya, Sobokartti pernah diajak untuk masuk dalam jajarannya. Namun, Sobokartti menolak karena ia hanya mahu menerima bantuan dalam hal apapun atas nama pribadi, bukan kepentingan partai atau untuk hal politik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Tak dapat disangkal lagi bahwa suatu kesakralan, pada perkembangan jaman mampu menjadi korban dalam komersialisasi industri. Seperti yang dialami Sobokartti dalam dekade terakhir. Kesenian tradisional menjadi sesuatu yang eksklusif dan mahal di mata masyarakat. Masalah sebenarnya ialah minimnya orang yang mengetahui kesenian tradisional itu menyebabkan mahalnya harga yang harus dibayar saat mereka &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;ditanggap &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; untuk mementaskan keahliannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="font-family:Century, serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="sv-SE"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;         &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-5781557658535072888?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/5781557658535072888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=5781557658535072888' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/5781557658535072888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/5781557658535072888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/11/sobokartti.html' title='sobokartti'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-7253891257740403602</id><published>2008-11-11T13:17:00.002+07:00</published><updated>2008-11-11T13:32:24.680+07:00</updated><title type='text'>UPACARA</title><content type='html'>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;i&gt;Dengar seluruh angkasa raya memuji pahlawan negara&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;i&gt;............................................&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;i&gt;Harkat, jasa, kau cahya pelita bagi Indonesia merdeka&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Bayangan raut kebangga&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;an Sukardi, almarhum kakekku tiba-tiba berkelebat di pikiran pagi ini. Masih tergambar jelas di benakku setiap dua kali dalam setahun, beliau dengan daya imajinasi dan kata-katanya mampu menyihir seisi rumah untuk kembali merasakan masa perjuangannya di jaman penjajahan Jepang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;“&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ayo, persiapkan diri &lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;i&gt;buat&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; upacara besok.” Katanya tiap malam menjelang Tujuh Belas Agustus dan Sepuluh November, seolah tak sabar untuk menunggu kemunculan mentari esok pagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Pernah suatu hari, saat aku duduk di bangku SMP, aku&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; memergoki beliau menangis tengah malam di sudut dapur. Aku tak tahu apa yang menjadi penyebabnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;Keesokan harinya, beliau sudah berdandan rapi sejak subuh tiba, mengenakan seragam veterannya, lengkap dengan topi dan tanda bintang emas serta emblem-emblem lusuh yang dilekatkannya di baju hijau tua itu. Kemudian, beliau membangunkan seisi rumah untuk segera mempersiapkan diri mengikuti upacara di lapangan desa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;Setelah itu, dengan jalannya yang tertatih karena kerentaan usianya, ia menuju gapura Junggul, Bandungan dengan ditemani sebuah tongkat kayu yang menopang tubuhnya. Di gapura itu, ia menunggu teman-teman seperjuangannya dengan penuh semangat yang menyala-nyala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Lalu, mulai berdatanganlah para jompo yang juga mengenakan seragam veteran. Kebanyakan, mereka datang dari Piyoto dan Gintungan. Tak seperti kakekku, mereka terlebih dahulu harus menempuh berkilometer jalanan becek dan berbatu untuk berkumpul di gapura Junggul. Begitu sampai, mereka dengan gagah langsung memberi salam hormat pada kakek, beliau pun membalasnya dan mereka saling berpelukan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;“&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;Naik apa tadi?” tanya kakek pada salah satu temannya dari Piyoto.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;“&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;Jalan kaki.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;Mendekati pukul tujuh mereka mengeluarkan iuran dan segera menyewa angkot menuju lapangan Turangga Seta Ambarawa (waktu itu Junggul masuk bagian kecamatan Ambarawa). Mereka pun dengan bangga membentuk barisan rapi dan mengikuti jalannya upacara dengan khidmat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;Saat pembina upacara menyampaikan amanatnya, kakek dan beberapa kawan seperjuangannya hampir menitikkan air mata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;“&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;Sebagai generasi muda, kita harus mengingat dan menghargai jasa para pahlawan dengan meneruskan perjuangannya.” kata pembina itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Usai upacara berakhir, kakek dan teman-temannya kembali mengeluarkan iuran untuk perjalanan pulang. Hingga kini, aku pun masih ingat setiap kakek sampai di rumah, semangatnya yang berkobar tak lagi terlihat seperti sehari sebelum upacara dimulai. Wajahnya kuyu dan letih.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kini, saat aku duduk di bangku kuliah barulah aku tahu dan mengerti makna tangisan dan wajah kuyu kakek tempo hari. Ternyata, kebanggaannya sebagai pejuang kemerdekaan dinodai oleh keperihan hatinya atas perlakuan pemerintah pada anggota veteran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;Ia merasakan ada sebuah rasa ngilu yang menusuk hingga dasar hatinya. Dalam diamnya, ia menangis dan merasakan ada borok yang semakin menggerogoti kekecewaannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Ia tak pernah menuntut untuk dihormati. Tapi, ketika mengingat perjuangan dan pengorbanan nyawa para teman seperjuangannya dahulu, ia hanya bisa berharap pemerintah lebih dapat memperhatikan nasib para pensiunan veteran, sebab nasib mereka usai kemerdekaan ternyata tak lebih baik dari jaman penjajahan. Hidupnya tetap tak terjamin. Bahkan, untuk sekedar mengikuti upacara setiap Tujuh Belas Agustus dan Sepuluh November pun, mereka harus patungan terlebih dahulu untuk menyewa angkutan umum.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;Bangsa yang sukses dan bermartabat adalah bangsa yang mampu menghargai sejarahnya. Menghargai sejarah berarti menghargai seluruh aspek yang bersinggungan dengannya. Menghargai para pahlawan yang telah gugur dapat kita lakukan dengan mendoakan dan meneruskan cita-cita mereka agar rakyat Indonesia tetap menjaga persatuannya. Sedangkan bagi para pahlawan yang masih hidup, hendaknya kita memperhatikan kehidupannya saat ini. Jangan sampai setelah negeri ini merdeka, mereka tidak mendapatkan kemerdekaan batin dan merasa lebih menderita dibandingkan masa pendudukan penjajah pra-kemerdekaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="left" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:#c5000b;"&gt;&lt;span style="font-family:Courier New, monospace;"&gt;09102008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-7253891257740403602?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/7253891257740403602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=7253891257740403602' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/7253891257740403602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/7253891257740403602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/11/upacara_11.html' title='UPACARA'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-1657213820993374232</id><published>2008-11-08T15:21:00.002+07:00</published><updated>2008-11-08T16:23:53.407+07:00</updated><title type='text'>CURHAT</title><content type='html'>hikz.....hikz.....&lt;br /&gt;mendekati lebaran kemarin aku sakit ati....&lt;br /&gt;semua cerpen2Q dari SMA-kuliah ilang.....&lt;br /&gt;gak nyisa 1 pun...&lt;br /&gt;nyeselnya gak aku back up dulu...&lt;br /&gt;padahal baru aja aku mau masukin ke blog ini...&lt;br /&gt;hikz...hikz...&lt;br /&gt;buat semua, ati2 ya kalo punya karya,,,,,&lt;br /&gt;cepet2 dipublikasiin dan di back up sebanyak2nya biar gak da lagi yang ngalamin pnyesalan kayak aku....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-1657213820993374232?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/1657213820993374232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=1657213820993374232' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/1657213820993374232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/1657213820993374232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/11/curhat.html' title='CURHAT'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-1504249487402158452</id><published>2008-06-04T10:46:00.000+07:00</published><updated>2008-06-04T10:52:34.378+07:00</updated><title type='text'>"SECANGKIR KOPI PAHIT"</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%;"&gt;MANIS GETIR KEHIDUPAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;JUDUL FILM&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: Secangkir Kopi Pahit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;SUTRADARA&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Teguh Karya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;PEMAIN&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;: Alex Komang (Togar)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;                                    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rina Hasyim (Lola)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Teguh Karya adalah salah satu anak bangsa yang selalu menghasilkan karya – karya bermutu. Salah satu filmnya yang patut diacungi jempol ialah &lt;i style=""&gt;Secangkir Kopi Pahit&lt;/i&gt; dengan pemeran utama Alex Komang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Filmnya kali ini membahas mengenai lika – liku kehidupan seorang Togar (Alex), perantau dari Batak yang mengadu nasib di &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Meskipun latar belakang pendidikannya ialah sebagai seseorang yang pernah duduk di fakultas ekonomi, namun jiwa dan cita - citanya telah menuntunnya menjadi seorang wartawan di sebuah &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kabar ibu &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Meskipun gaji yang diterimanya tidak terlalu besar, namun ia mencoba untuk terus bertahan hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada suatu ketika di sela – sela waktu kerja, ia bersama sahabatnya Buyung (Resa Hetapi) menyempatkan ngobrol untuk membahas hal – hal yang sifatnya ringan sambil minum - minum di kedai seorang janda beranak tiga bernama Lola (Rina Hasyim). Sejak saat itu, Togar sering mampir atau sengaja datang untuk sekedar minum di kedai itu. Sampai pada suatu hari, saat ia stres memikirkan suatu masalah, Togar datang untuk minum di kedai Lola. Tak lama kemudian ia pun mabuk dan melakukan hubungan layaknya suami istri bersama Lola. Beberapa minggu usai kejadian itu Lola sadar bahwa ia tengah hamil dan meminta pertanggungjawaban dari Togar. Karena Togar sedang dalam keadaan labil akibat pekerjaannya yang kurang beres, maka iapun membantah bahwa bayi itu adalah anaknya. Namun, pada akhirnya Togar menikahi Lola dengan perasaan penuh sesal dan terpaksa.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada awal pernikahan mereka, sering terjadi keributan – keributan kecil yang mengancam keutuhan rumah tangga itu. Togar selalu mengatakan bahwa pernikahan itu terjadi hanya karena keterpaksaannya untuk bertanggungjawab atas kesalahan yang telah ia perbuat, sebab tak mungkin ia melakukan hubungan itu atas dasar cinta dengan Lola yang usianya jauh lebih tua darinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sampai pada suatu hari, Togar dapat mencintai istri serta anak – anak tirinya dengan tulus. Dengan spontan kehidupan rumah tangga merekapun dipenuhi dengan rasa cinta kasih. Namun, kebahagiaan nampaknya tak berlangsung lama. Sebab, tak lama kemudian Togar mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal. Iapun kembali ke Batak bersama istri dan anak – anaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di tanah kelahirannya itu, sang ibunda tidak bisa menerima kenyataan bahwa Togar telah menikah dengan seorang janda beranak tiga yang berasal dari &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Manado&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Hal itu dianggapnya sebagai sebuah aib keluarga. Selain karena mereka berbeda suku, usia merekapun terpaut sangat jauh. Lola lebih pantas menjadi ibu Togar. Namun setelah mengenal lebih jauh sifat menantunya, ibu Togar akhirnya merestui pernikahan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam acara berbulan madu, saat mereka menaiki &lt;i style=""&gt;motor boat&lt;/i&gt; di tanah kelahiran Togar itu, tiba – tiba saja Lola mengalami kecelakaan yang menyebabkannya tenggelam dan tewas. Oleh beberapa pihak yang tidak menyaksikan langsung kejadian tersebut, Togar disalahkan atas kejadian itu. Ia dicurigai sengaja membunuh istrinya karena rasa bencinya pada Lola. Ia dituntut dan dimintai pertanggungjawaban. Setelah melalui beberapa tahap persidangan, iapun dibebaskan karena terbukti tidak melakukan kesalahan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Secangkir Kopi Pahit&lt;/i&gt;, adalah sebuah bentuk ekspresi Teguh Karya yang sarat dengan kefilosofisan. Ia mampu membungkus makna filosofis kopi pada karyanya lewat beberapa skenario dan adegan yang cukup unik (khas) di masanya. Rasa kopi pada umumnya memang pahit, namun setelah kopi yang pahit itu ditambahkan dengan kata ‘secangkir’ maka secara semantis kopi itu tidak lagi hanya ada rasa pahit. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; rasa manis yang mengiringinya. Begitupun dengan hidup manusia. Tak selamanya manusia hidup dalam keterpurukan, kesialan, serta kejelekan terus – menerus. &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kalanya kebahagiaan menyelimuti hidup. Dan terkadang, kebahagiaan serta kepedihan saling menempel satu sama lain sehingga berjalan berbarengan. Kadang hidup manusia berada di atas, dan terkadang juga berada di bawah. Hal itu &lt;i style=""&gt;lumrah&lt;/i&gt; terjadi pada siapapun dan kapanpun. Jadi, jangan pernah berputus asa dalam menjalani hidup yang memang penuh dengan masalah. Nampaknya, hal itulah yang ingin disampaikan Teguh dalam filmnya kali ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Tahun 80-an yang menjadi latar dalam film itu sangat kental dengan adanya banyak fakta yang berkembang di masyarakat mengenai perbedaan suku maupun ras. Ia ingin mempertentangkan opini sebagian masyarakat yang masih menganggap perkawinan dengan suku yang berbeda merupakan sebuah aib dengan opininya sendiri bahwa tidak selamanya anggapan seperti itu benar. Seperti dalam karyanya yang lain, &lt;i style=""&gt;Ibunda,&lt;/i&gt;Teguh nampaknya menyukai perbedaan – perbedaan antar suku yang disatukan dengan cinta. Dalam &lt;i style=""&gt;Ibunda&lt;/i&gt; Teguh memadukan tokoh Jawa dengan &lt;st1:place&gt;Ambon&lt;/st1:place&gt;. Sedangkan dalam &lt;i style=""&gt;Secangkir Kopi Pahit&lt;/i&gt; ini ia mempertemukan suku Batak dan &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;Manado&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dalam cinta Togar dan Lola. Ia ingin membuktikan bahwa cinta kasih dapat membuat segalanya menjadi lebih baik.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Tak seperti film yang lain, film ini mengusung tema yang tak sederhana yang disajikan lewat kerumitan – kerumitan masalah hidup orang perantauan yang masih menjunjung adatnya di tanah rantau. Film ini dapat juga dijadikan sebagai salah satu referensi atau acuan orang yang ingin mengetahui gambaran keadaan anak rantau tahun 80-an. Jadi, dijamin Anda tidak akan menyesal memiliki koleksi film Teguh Karya, &lt;i style=""&gt;Secangkir Kopi Pahit&lt;/i&gt; ini. Selamat membuktikan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-1504249487402158452?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/1504249487402158452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=1504249487402158452' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/1504249487402158452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/1504249487402158452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/06/secangkir-kopi-pahit.html' title='&quot;SECANGKIR KOPI PAHIT&quot;'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-8059134339365491156</id><published>2008-06-04T10:10:00.003+07:00</published><updated>2008-06-04T10:43:56.230+07:00</updated><title type='text'>"SEVEN YEARS IN TIBET"</title><content type='html'>&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;color:red;"   &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JALAN CERITA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;color:red;"   &gt;Seven Years in &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:red;"  &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; ialah sebuah film yang diilhami dari kisah nyata, yang menceritakan mengenai perjalanan hidup &lt;span style="color:red;"&gt;Heinrich Harrer&lt;/span&gt; selama 7 tahun terdampar di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Harrer ialah salah seorang anggota Partai Sosialis Nasionalis di &lt;span style="color:red;"&gt;Austria&lt;/span&gt;, Jerman yang memiliki hobi mendaki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pada&lt;span style="color:red;"&gt; 29 Juli 1939&lt;/span&gt;, Harrer yang tidak mahu memiliki anak tega meninggalkan istrinya yang sedang hamil untuk berangkat ke Pegunungan Himalaya guna mewujudkan cita – citanya menaklukkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Nanga Parbat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Ia sangat terobsesi menjadi orang pertama yang dapat mencapai puncaknya, yakni 6.800 m dpal. Anaknya diprediksi akan lahir saat Harrer masih dalam perjalanan ekspedisinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Saat ekspedisi Harrer hampir berhasil, di separo jalan timnya terhalang oleh badai dan longsoran salju. Mereka terpaksa menghentikan ekspedisi itu dan kembali menuruni gunung demi keselamatan diri. Namun, di tengah perjalanannya sewaktu turun, tim mereka terpaksa ditahan oleh tentara setempat. Alasannya ialah karena waktu mereka mendaki ternyata berbarengan dengan meletusnya perang antara Inggris dan Jerman. Mereka akhirnya dibawa ke &lt;span style="color:red;"&gt;Dehra Dunn &lt;/span&gt;di India untuk ditahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Di dalam penjara, Harrer sempat beberapa kali mencoba melarikan diri namun selalu gagal. Bahkan, ia mendapat perlakuan kasar atas fisiknya dari para penjaga tahanan. Dalam keputusasaan itu ia sangat merindukan istrinya. Bahkan, naluri kebapakannya mulai tumbuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pada Bulan &lt;span style="color:red;"&gt;Oktober 1940 &lt;/span&gt;ia menerima &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; cerai dari Ingrid di penjara. Ingrid merasa tidak ada kecocokan lagi di antara mereka. Anak mereka, &lt;span style="color:red;"&gt;Rolf Harrer&lt;/span&gt; mulai beranjak besar dan membutuhkan figur seorang ayah. Jadi, karena Ingrid sejak awal tahu bahwa Harrer tidak menginginkan Rolf maka ia mantap menikah lagi dengan pria pilihannya yang juga sudah akrab dengan Rolf yakni &lt;span style="color:red;"&gt;Immendorf&lt;/span&gt;. Ingrid berkata bahwa kelak, saat anak itu dewasa ia akan memberitahukan bahwa ayahnya telah tewas dalam ekspedisi ke &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Himalaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; saat ia masih dalam kandungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Akhirnya, pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:date year="1943" day="18" month="11"&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;18 November 1943&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:date&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; Harrer bersama beberapa kawannya berhasil lari dari penjara itu lewat penyamaran diri. Namun, ia berpisah dan mencari jalan pulang sendiri tanpa kawan – kawannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pada suatu hari, Harrer sampai ke India Bagian Utara. Karena ia tak mempunyai persediaan makanan, iapun mencuri sesaji dan beberapa keping uang logam di kuil. Tak berapa lama kemudian, ia bertemu dengan &lt;span style="color:red;"&gt;Peter&lt;/span&gt;, rekan ekspedisi sekaligus teman melarikan diri (dari penjara &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;India&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;). Mereka berdua mencari jalan pulang (ke Jerman) bersama – sama melewati &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="color:red;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Setelah berjalan sekitar 68 km, saat berada di perbatasan, mereka sempat diusir oleh pejabat setempat sebab pemerintah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; memiliki aturan tidak diperbolehkannya orang asing masuk ke daerahnya. Saat tiba di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; suci &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Lhasa&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;, kampung halaman Dalai Lama, Harrer dan Peter menyamar sebagai warga sekitar agar diperbolehkan masuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Ternyata, di &lt;span style="color:red;"&gt;Lhasa&lt;/span&gt; mereka berdua diterima baik oleh masyarakat. Bahkan, mereka mendapatkan hadiah dari &lt;span style="color:red;"&gt;Ngawang Jigne&lt;/span&gt;, Menteri Sekretaris Negara, berupa dua potong jas yang dijahit langsung oleh&lt;span style="color:red;"&gt; Pema Lha-Ki&lt;/span&gt;, penjahit terbaik di Lhasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Harrer dan Peter sama – sama menyukai Pema. Namun, akhirnya Pema jatuh ke pangkuan Peter dan menikah dengannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pada 1945 Harrer mendapat berita bahwa Jerman telah menyerah. Ia pun segera ingin kembali ke &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Austria&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; untuk menemui anaknya. Namun, setelah ia mendapat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;surat&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; dari anaknya yang berisi bahwa ia tidak diakui sebagai ayah oleh anaknya sendiri dan bergantinya nama Rolf Harrer menjadi &lt;span style="color:red;"&gt;Rolf Immendorf&lt;/span&gt; ia kembali mengurungkan niatnya. Ia pun tak jadi pulang dan tetap di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Lhasa&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Suatu ketika, Harrer mendapat kehormatan dari ibunda Kun Dun untuk menemui anaknya, pemimpin kehidupan spiritual rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Harrer sangat senang bertemu dengan &lt;span style="color:red;"&gt;Kun Dun&lt;/span&gt;, begitu juga sebaliknya. Mereka memiliki hobi yang sama, menonton film. Untuk itu, Kun Dun meminta Harrer membuatkannya gedung bioskop bagi warga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tak butuh waktu lama bagi Harrer dan Kun Dun saling mengenal pribadi masing – masing. Karena Kun Dun ingin mempelajari dunia Harrer, maka Harrer mengajari banyak hal kepadanya, seperti belajar mengerti peta, cara mengemudikan mobil, serta memahami ilmu – ilmu alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;color:red;"   &gt;Negara Cina&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; secara tiba – tiba mengumumkan bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; menjadi daerah rebublik di bawah kekuasaanya. Rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; memprotes keputusan itu. Bagi mereka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; adalah negara merdeka yang tidak mengakui raja atau pemimpin lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pada suatu malam, Kun Dun bermimpi bahwa&lt;span style="color:red;"&gt; Tasker di Amdo&lt;/span&gt;, tanah kelahiran Dalai Lama dihancurkan oleh orang asing. Ia merasa mimpinya akan menjadi kenyataan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Selang beberapa hari mimpi itu terjadi. Pada &lt;span style="color:red;"&gt;12 Mei 1937&lt;/span&gt; Jenderal Cina datang dan bernegosiasi dengan Kun Dun. Rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; menginginkan daerahnya dibebaskan dari pemerintahan Cina atau setidaknya diberi hak otonomi. Sebab, menurut Dalai Lama ke-13, kalau Tibet dikuasai orang asing, maka akan terjadi kekacauan dengan diserangnya agama oleh kekuatan luar, serta penghancuran biara, kitab suci,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan rahib. Namun, Jenderal Cina tak sedikitpun peduli. Ia malah mengatakan bahwa agama adalah racun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Sebanyak &lt;span style="color:red;"&gt;84.000 pasukan Cina di bawah Chang Jing Wu &lt;/span&gt;melakukan serangan pertama kali di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Selama 11 hari perang berkobar. Harrer dan Peter ikut membantu dalam hal teknis persenjataan rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Namun, sebelum rakyat merampungkan perjuangannya, Perdana Menteri Ngawang Jigne telah menyerah kalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Semua rakyat kecewa pada kepengecutan Ngawang dan memohon pada pihak pemerintah agar Kun Dun - &lt;span style="color:red;"&gt;Dalai Lama&lt;/span&gt; - diijinkan untuk berkuasa dalam hal politik, sebab ia dinilai sudah mampu memimpin Tibet dengan ilmu yang dimilikinya. Kun Dun pun akhirnya diangkat menjadi pemimpin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kemudian, Kun Dun menyarankan agar Harrer kembali ke &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Austria&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; sebab negaranya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Austria&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;, telah aman. Namun, yang terpenting ia harus menemui anaknya dan merawatnya dengan baik. Kun Dun tidak meminta Harrer untuk ikut berperang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pada&lt;span style="color:red;"&gt; 1951 &lt;/span&gt;Harrer sampai di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Austria&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Ia menemui Rolf dan memberikan kotak musik pemberian Kun Dun. Mulanya ia tidak diterima, namun akhirnya Rolf mahu mengakuinya sebagai ayah dan bahkan ia ikut mendaki ayahnya ke &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Himalaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dalam pertempuran itu, &lt;span style="color:red;"&gt;sejuta orang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;color:red;"  &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;color:red;"   &gt; mati dan 6.000 biara hancur&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; akibat penjajahan Cina di Tibet. Pada tahun 1959 Kun Dun melarikan diri ke &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;India&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Sedangkan pada &lt;span style="color:red;"&gt;1989&lt;/span&gt; Heinrich Harrer mendapatkan nobel perdamaian dan tetap bersahabat baik dengan Dalai Lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t136" style="'width:341.25pt;height:27pt'" fillcolor="#06c" strokecolor="#9cf" strokeweight="1.5pt"&gt;  &lt;v:shadow on="t" color="#900"&gt;  &lt;v:textpath style="'font-family:" trim="t" fitpath="t" string="PROSES KOMUNIKASI DAN PEMAHAMAN&amp;#13;&amp;#10;"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Guest/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif" alt="PROSES KOMUNIKASI DAN PEMAHAMAN" shapes="_x0000_i1027" height="41" width="460" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PROSES KOMUNIKASI DAN PEMAHAMAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Film ini memiliki nilai hiburan, pendidikan serta artistik yang dikombinasikan dan dikomunikasikan dengan sangat baik oleh sutradara kepada para penontonnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;color:blue;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;nilai hiburan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dikaji dari rentetan adegan, film ini terasa tidak membosankan. Setiap adegannya mengandung makna yang terkadang dapat secara langsung dimengerti oleh penonton, dan terkadang juga menimbulkan penasaran. Sehingga, ada kenikmatan tersendiri yang membuat film ini terasa lain dari yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;color:blue;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;nilai pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Banyak sekali nilai pendidikan yang dapat kita peroleh dari film ini. Antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="2" type="a"&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;color:fuchsia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;pendidikan moral :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;ketika Harrer berbohong tentang lukanya saat mendaki dan membahayakan jiwa rekannya, kita diingatkan untuk tidak berbohong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;kita harus saling menghargai perbedaan dan menghormati kebudayaan daerah lain, jangan seperti Harrer yang mimik mukanya seolah mencemooh kebiasaan orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; dalam mengusir setan dan menjulurkan lidah untuk mengucapkan ‘halo’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;membantu tidak boleh melihat ras atau suku bangsa, seperti yang dilakukan Tsarong yang dengan senang hati menjamu Harrer dan Peter untuk makan siang setelah melihat keduanya mencuri makanan anjing warga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="2" type="a"&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="line-height: 150%;color:fuchsia;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;pendidikan non-moral&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;kita menjadi tahu bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; adalah Jajahan Cina&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; adalah negara beragama Buddha yang kehidupan spiritualnya dipimpin oleh seorang Dalai Lama yang terpilih sejak kecil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;kita menjadi tahu berbagai adat dan kebudayaan masyarakat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 90pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;tipe geografisnya terdiri atas gunung bersalju, ladang (persawahan), perkampungan, dan sungai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" start="3" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 102, 255); line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;nilai artistik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;nilai artistik dapat terlihat dari bangunan – bangunan yang ditampilkan serta keindahan rancangan busana tradisionalnya (mulai dari struktur, bentuk, dan warna).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Sutradara telah berhasil menyampaikan isi dan pesan dari film tersebut. Film yang menyampaikan tentang perjuangan seorang pendaki asal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Austria&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; yang tersesat dan terseret dalam berbagai masalah ketika berusaha mencari jalan pulang dari penjara di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Dehra Dunn&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;, &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;India&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; ini, menawarkan suasana emosi yang &lt;span style="color:red;"&gt;menyedihkan sekaligus menegangkan&lt;/span&gt;. Kebudayaan yang disajikan dalam film ini kebanyakan ialah kebudayaan masyarakat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; yang didominasi ajaran Buddha, terutama dalam ranah kepemerintahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUATAN BUDAYA&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1028" type="#_x0000_t136" style="'width:188.25pt;height:17.25pt'" fillcolor="#06c" strokecolor="#9cf" strokeweight="1.5pt"&gt;  &lt;v:shadow on="t" color="#900"&gt;  &lt;v:textpath style="'font-family:" trim="t" fitpath="t" string="MUATAN BUDAYA"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Guest/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" alt="MUATAN BUDAYA" shapes="_x0000_i1028" height="28" width="256" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dalam Seven Years in &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; ini tidak hanya menayangkan gambar sesuai temanya. Namun ada banyak muatan budaya, adat (kebiasaaan), serta kepercayaan (mitos) yang dipengaruhi kehidupan religius, seperti :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Masayarakat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; percaya bahwa orang asing (komunitas di luar masyarakat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;) tidak diperkenankan memasuki wilayah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Sebab, seperti kata Dalai Lama ke-13 bahwa suatu ketika, di saat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; dimasuki oleh orang asing maka kehidupan keagamaan di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; akan terancam hilang. Kekuatan asing tersebut akan merusak dan membakar kitab suci, menghancurkan biara – biara, membunuh para rahib dan mengacaukan kehidupan masyarakat yang semula tenang, aman, dan damai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; menganggap orang – orang asing sebagai setan yang harus diusir dari daerahnya dengan menepuki tangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; percaya bahwa Dalai Lama (gelar) adalah reinkarnasi Avalokitesvhara yang berhak memimpin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;. Orang yang menjadi Dalai Lama baru haruslah orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; asli yang memiliki tanggal lahir sama dengan tanggal kematian Dalai Lama sebelumnya. Sebab, orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; percaya bahwa roh Dalai Lama bereinkarnasi dalam tubuh orang yang memiliki tanggal lahir sama dengan tanggal kematiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Tempat kelahiran Dalai Lama dijadikan orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; sebagai tempat suci yang tertutup bagi orang asing. Di tempat itu banyak orang berjalan sambil melakukan sembahyang di sepanjang jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kebiasaan orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; dalam bersembahyang adalah berdiri sambil menepuk kedua tangan di atas kepala 1 kali, di depan dada 1 kali, di depan perut 1 kali dan kemudian menengkurapkan diri sambil bertepuk di atas kepala lagi, lalu berdiri dan mulai dari awal lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; selalu memberi hadiah pada orang atau tamu yang dihormatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Di Tibet, orang dihargai karena keberhasilannya mengekang ego sendiri, bukan karena prestasi seperti di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Austria&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Saat bertemu dengan pemimpin spiritualis (Dalai Lama – Kun Dun) orang harus membungkuk, bersujud, berdiri saat berbicara, tidak memendang matanya saat berbicara, tidak boleh menyentuhnya, dan wajib memenggilnya Yang Mulia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Pendidikan bagi penerus Dalai Lama sangat diperhatikan oleh pemerintah sebab kelak ia akan memimpin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Masyarakat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; percaya bahwa semua mahkluk adalah ibu mereka, jadi mereka selalu berhati – hati mengerjakan sesuatu agar tidak menyakitinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; percaya bahwa adanya satu bintang yang bersinar sangat terang adalah suatu pertanda buruk akan terjadi, sehingga mereka semalam suntuk mencoba mengusirnya dengan bunyi – bunyian dari peralatan dapur, dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; percaya bahwa negaranya adalah negara suci yang terpilih Dewa, sehingga mereka tidak mengakui pemimpin lain selain Dalai Lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; percaya bahwa musuh dan penderitaan adalah guru yang baik sebab keduanya sama – sama membantu melatih kesabaran dalam kesusahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; suka mengambil filosofi dari mentega. Maka dalam acara – acara akbar seperti pengangkatan Kun Dun sebagai pemimpin &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; mereka gunakan mentega untuk membuat patung dewa – dewa, yang berarti tidak adanya suatu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keabadian di dunia ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Bagi orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;, mengembalikan hadiah adalah suatu penghinaan yang sangat besar dan tidak dapat dimaafkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dalam perjamuan bagi orang yang akan bepergian jauh, sang tuan rumah menuangkan the mentega sebanyak dua kali. Tuangan yang pertama untuk diminum orang yang akan bepergian jauh tersebut dan tuangan yang kedua dibiarkan untuk tidak diminum dengan harapan orang tersebut akan kembali lagi untuk meminumnya (setelah pergi jauh).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;KOMUNIKASI VISUAL&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t136" style="'width:224.25pt;height:17.25pt'" fillcolor="#06c" strokecolor="#9cf" strokeweight="1.5pt"&gt;  &lt;v:shadow on="t" color="#900"&gt;  &lt;v:textpath style="'font-family:" trim="t" fitpath="t" string="KOMUNIKASI VISUAL"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Guest/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image005.gif" alt="KOMUNIKASI VISUAL" shapes="_x0000_i1029" height="28" width="304" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ø&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;color:red;"   &gt;Tepuk tangan &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;sebenarnya adalah hal yang biasa kita jumpai saat ada kekaguman tentang suatu hal. Namun, bagi orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;, tepuk tangan berarti mengusir setan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Begitu juga dengan &lt;span style="color:red;"&gt;menjulurkan lidah&lt;/span&gt;. Bagi orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; menjulurkan lidah pada orang lain adalah suatu hal yang sangat tidak sopan. Namun, bagi warga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; justru sangat terhormat. Sebab, menjulurkan lidah berarti mengucapkan salam sapaan atau rasa hormat bagi orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Orang – orang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; sangat religius dan mengagungkan Dalai Lama. Terlihat saat menuju ke&lt;span style="color:red;"&gt; Lhasa&lt;/span&gt;, tempat asal Dalai Lama, banyak di antara mereka yang melakukan &lt;span style="color:red;"&gt;sujud berkali - kali&lt;/span&gt; sepanjang jalan sebab meraka beranggapan bahwa mereka sedang menuju ke tempat paling suci di dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;color:red;"   &gt;Membungkuk dan bersuduj pada Kun Dun&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; berarti menghormati dan tunduk padanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;color:red;"   &gt;Bintang&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; yang merupakan benda angkasa di dalam film ini dianggap penting, sebab mampu mensugesti warga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; untuk berpikir bahwa sebentar lagi akan ada musibah besar yang menimpa negerinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;color:red;"   &gt;Mentega&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; yang meleleh tersinari matahari juga menjadi benda penting yang mengisyaratkan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi, termasuk kekuasaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Wingdings;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;color:red;"   &gt;Teh mentega&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; yang hanya minuman biasa di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;" &gt;Tibet&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; mampu menyimbolkan makna yang dalam saat dituangkan oleh tuan rumah bagi tamu yang berkunjung untuk berpamitan ketika akan pergi ke tempat yang sangat jauh. Penuangan the mentega yang kedua kalinya menyiratkan pesan tidak langsung bagi si tamu agar selalu ingat pada tuan rumah dengan harapan ia dapat kembali lagi untuk meminumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-8059134339365491156?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/8059134339365491156/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=8059134339365491156' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/8059134339365491156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/8059134339365491156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/06/seven-years-in-tibet-ialah-sebuah-film.html' title='&quot;SEVEN YEARS IN TIBET&quot;'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-7739301537187824419</id><published>2008-05-01T10:32:00.003+07:00</published><updated>2008-05-01T10:47:35.478+07:00</updated><title type='text'>BUKAN BETA BIJAK BERPERI : TRANSFORMASI PUISI MELAYU DENGAN TRADISI BARU</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;        ‘Bukan Beta Bijak Berperi’ : Transformasi Puisi Melayu dengan Tradisi Baru ” ini memaparkan secara singkat mengenai adanya keunikan pada penyimpangan konvensi puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” karya Rustam Effendi atas peraturan yang sudah ada. Keunikan itu dapat terlihat dari berbagai hal mulai dari bentuk visual hingga perioditasnya. Adapun keunikan lainnya ialah dalam bentukan puisi baru yang tercipta itu ternyata tidak sepenuhnya terjadi perubahan total, masih ada sedikit kegayutan dengan konvensi yang sudah ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Puisi merupakan bentuk pengucapan atau pengungkapan pikiran / perasaan dengan bahasa yang istimewa. Menggunakan bahasa sesedikit mungkin, tetapi mempunyai arti sebanyak mungkin. Hal inilah yang kiranya telah dicapai oleh Rustam Effendi dalam puisinya “Bukan Beta Bijak Berperi”. Dengan kata – kata yang padat ia mampu menyampaikan maksud pikirannya, yakni tentang kemerdekaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;“BUKAN BETA BIJAK BERPERI” :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;TRANSFORMASI PUISI MELAYU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;DENGAN TRADISI BARU&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;ANGKATAN PRA-PUJANGGA BARU&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada tahun 1920-an, kegiatan kesusastraan tidak hanya terbatas pada Balai Pustaka. Di samping itu, telah dikenal pula penerbitan majalah dan buku – buku yang isinya kebanyakan bersifat sastra. Ada dua golongan penerbitan pada masa itu, yakni :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;penerbitan      karangan – karangan bertendens politik, yang sering disebut sebagai      “bacaan liar”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;penerbitan      karangan – karangan yang lebih bersifat sastra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kegiatan mengembangkan penerbitan karangan – karangan yang lebih bersifat sastra itu lazim disebut &lt;span style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;sastra Pra-Pujangga Baru&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;,&lt;/span&gt; sebab pengarang – pengarang golongan ini kemudian dikenal juga sebagai &lt;span style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;pengarang Pujangga Baru&lt;/span&gt;. Hasil karangan mereka pada sekitar tahun 1920 dapat dipandang sebagai sastra Pra-Pujangga Baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Beberapa &lt;b style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;pengarang Pra-Pujangga Baru&lt;/b&gt; antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Moh. Yamin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Rustam Effendi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sultan Takdir Alisjahbana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Amir Hamzah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sanusi Pane&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Armijn Pane&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Y.E. Tatengkeng&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Hamidah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;I Gusti Nyoman Putu Tisna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Suman Hs&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;11.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;MR. Dayoh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;12.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Asmara Hadi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;13.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;A. Hasymy&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;14.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sutomo Jauhari Arifin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Adapun &lt;b style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;karakteristik sastra Pujangga Baru&lt;/b&gt; antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;tema yang diangkat umumnya masalah kehidupan kota (modern), bukan lagi masalah adat (kawin paksa)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;mengandung unsur nasionalitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;memiliki kebebasan dalam menentukan bentuk pengucapan sesuai dengan pribadi pengarang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;bahasa Pujangga Baru adalah Bahasa Indonesia yang hidup dalam masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;cenderung romantik idealistik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;adanya unsur pengaruh dari sastra lain terutama angkatan ’80-an dari Negeri Belanda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Berikut ini merupakan pemaparan singkat mengenai pengarang Rustam Effendi angkatan Pra-Pujangga Baru beserta karya puisinya yang berjudul “Bukan Beta Bijak Berperi” yang merupakan transformasi puisi Melayu dengan tradisi baru:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;RUSTAM EFFENDI DAN PUISI “BUKAN BETA BIJAK BERPERI”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Rustam Effendi adalah salah satu dari dua pembuka sejarah baru dalam bentuk puisi, di samping Moh. Yamin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 153, 51);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 51);"&gt;Dua karangan Rustam Effendi&lt;/span&gt; yang telah dibukukan&lt;/b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bebasari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; color: rgb(153, 102, 51);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Percikan Permenungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Keduanya merupakan&lt;i style=""&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 153, 102);"&gt;“Pasangan yang Sejoli”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 102);"&gt; &lt;/span&gt;karena kedua buku itu dikarang dalam saat dan suasana yang bersamaan. &lt;i style=""&gt;Pecikan Permenungan&lt;/i&gt; yang dibuat di Padang pada Bulan Maret 1925, tidak lama setelah &lt;i style=""&gt;Bebasari &lt;/i&gt;terbit, lahir sebagai reaksi terhadap sikap pemerintah kolonial yang merintangi peredaran buku &lt;i style=""&gt;Bebasari.&lt;/i&gt; Sebab, dalam buku tersebut terkandung makna keperwiraan serta heroisme yang menegaskan secara keras jeritan merdeka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bebasari&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; adalah tonil atau drama bersajak dalam tiga pertunjukan (babak) yang isinya bersifat simbolik. Ceritanya mengisahkan mengenai kerajaan Maha Raja Takutar yang telah dirampas Rawana. Bujangga, putra maharaja berusaha melepaskan kekasihnya yang bernama Bebasari, anak bangsawan Sabari, yang dikurung Rawana. Dengan bantuan Sabainaracu. Bujangga berhasil mengusir Rawana dan melepaskan Bebasari dari kurungan. Akhirnya mereka pun kawin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Simbolik drama itu jelas sekali. Rawana mengingatkan kita pada penjajah yang bersifat angkara murka, Bujangga sebagai lambang angkatan muda, dan Bebasari adalah lambang kebebasan atau kemerdekaan tanah air. Karena jelasnya sifat simbolik itu maka buku &lt;i style=""&gt;Bebasari&lt;/i&gt; dirintangi peredarannya oleh pemerintah waktu itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kumpulan puisi Rustam yang terdiri atas 64 buah telah disatukan dalam &lt;i style=""&gt;Percikan Permenungan&lt;/i&gt; dan 11 di antaranya berbentuk soneta. Berbeda dengan soneta Yamin, kedua kuartren soneta Rustam Effendi tidak selalu berumus sajak yang sama. Isinya merupakan hasrat akan kemerdekaan yang dijelmakan dalam bentuk romantik, seperti syair dalam puisi “Bunda dan Anak”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Yang menarik dari puisi – puisi Rustam lainnya (selain soneta) ialah terdapatnya keanekaragaman dalam jumlah kata dan jumlah suku kata tiap barisnya. Beberapa kemungkinan tentang &lt;span style="color: rgb(153, 153, 255); font-weight: bold;"&gt;jumlah suku kata tiap barisnya&lt;/span&gt; ialah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;              &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;sama jumlah suku kata tiap baris pada puisi itu, misalnya puisi yang berjudul “Dalam Kamar”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;berselang – seling antara baris yang satu dengan baris yang lain, misalnya 6, 5, 6, 5, dst.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;berbeda sama sekali, ada yang terdiri atas dua suku kata, ada yang terdiri atas 17 suku kata, misalnya puisi yang berjudul “Alam”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tentang &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 255);"&gt;jumlah kata tiap barisnya&lt;/span&gt; ada beberapa kemungkinan pula :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;sama tiap barisnya, misalnya 4, 4, 4, 4, dst.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;berselang – seling, misalnya 3, 4, 3, 4, dst.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;berbeda sama sekali, misalnya 1, 4, 5, 5, 6, 7, dst.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dengan irama (ritma) yang beraneka ragam dan dinamis itu, Rustam ingin membuktikan pula mengenai penggunaan irama yang berdasarkan kata atau suku kata, bukan berdasarkan tekanan kata semata – mata. Ia hendak menuju pada puisi kata atau puisi suku kata (puisi yang memandang kata atau suku kata sebagai kesatuan keindahan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Puisi – puisi Rustam Effendi jelas lebih mengenal variasi dalam berbagai hal dibanding dengan karya Yamin, sehingga terasa lebih hidup dan dinamis. Akan tetapi, pembaharuan yang ia bawa tidak selamanya tertuang dalam bentuk yang baru pula sehingga sering terjadi kontradiksi antara isi dan bentuk. Hal ini jelas terlihat pada puisinya yang berjudul “Bukan Beta Bijak Berperi” berikut ini :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bukan Beta Bijak Berperi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bukan beta bijak berperi,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pandai mengubah madahan syair,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bukan beta budak Negeri,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Musti menurut undangan mair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sarat saraf saya mungkiri,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Untaian rangkaian seloka lama,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Beta buang beta singkiri,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sebab laguku menurut sukma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Susah sungguh saya sampaikan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Degap – degupan di dalam kalbu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Lemah laun lagu dengungan,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Matnya digamat rasaian waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sering saya susah sesaat,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sebab madahan tidak nak datang,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sering saya sulit menekat,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sebab terkurung lukisan mamang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bukan beta bijak berlagu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dapat melemah bingkaian pantun,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bukan beta berbuat baru,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Hanya mendengar bisikan alun.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bentuk puisi di atas berupa puisi yang berselang – seling, baik jumlah kata maupun suku katanya. Akan tetapi, jumlah suku kata beserta irama dan pola persajakannya masih mudah mengingatkan kita pada bentuk pantun dan syair, dua bentuk yang justru hendak dibuang dan dihindari oleh penyair.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Rustam Effendi sebagai penyair Pujangga Baru, telah mengenal konvensi syair dan pantun. Namun, dalam “Bukan Beta Bikaj Berperi” ia berniat membuat puisi baru setelah mengenal puisi Eropa. Sehingga tidak heran bila ia menentang aturan dan konvensi pantun dan syair, baik mengenai konvensi bentuk formal maupun konvensi isi pikiran yang dikandungnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Penyimpangan konvensi itu nampak pada puisi di atas. Menurut bentuknya, sajak “Bukan Beta Bijak Berperi” itu adalah syair, sebab kelima bait berisi pernyataan yang bersambungan. Namun, sajak dalam puisi itu berpola a b a b, bukan a a a a. Sehingga, pola sajak yang tercipta akhirnya adalah pola sajak pantun. Isi sajak itu berupa pernyataan perasaan pribadi, pernyataan perasaan dan pikiran si aku. Hal seperti ini tidak dikenal dalam puisi Melayu. Akan tetapi, pola – pola bentuk yang teratur, periodisitas sajak Rustam Effendi itu sesungguhnya masih merupakan konvensi sajak Melayu atau tradisi dajak Melayu : tiap baris terdiri atas dua periodus, tiap periodus terdiri atas dua kata. Buktinya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;pantun : Pulau Pandan / jauh di tengah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;syair : Lalulah berjalan / Ken Tambunan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Rustam Effendi : Bukan beta / bijak berperi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Jadi, sajak Rustam Effendi merupakan transformasi puisi Melayu dengan tradisi baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Meskipun menyimpang dari konvensi pantun dan syair, namun keteraturan konvensi pembaitan yang teratur dan kesimetrisan pembagian baris yang tetap, serta penggunaan sajak akhir masih tetap diteruskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dalam “Bukan Beta Bijak Berperi” Rustam berusaha menciptakan kebaruan dengan tidak meninggalkan sama sekali konvensi sajak yang sudah ada.dalam puisi itu ia meneruskan ciri – ciri yang merupakan konvensi sajak – sajak sebelumnya sekaligus menentang konsep – konsep estetik sajak – sajak sebelumnya. Dalam hal ini terjadi ketegangan antara pembaharuan dan konvensi serta antara yang lama dengan yang baru. Di satu pihak ia meneruskan konvensi yang sudah ada dan di pihak lain ia menyimpangi konvensinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dalam sajak itu korespondensi berupa pembaitan, tiap bait terdiri dari 4 baris dan tiap baris terdiri dari dua satuan sintaksis (kelompok kata atau gatra) dari bait pertama sampai bait terakhir. Korespondensi dari awal bait, baris pertama sampai ke akhir bait,baris terakhir : susunannya serupa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Periodotas sajak tersebut juga dari awal baris bait pertama sampai ke akhir baris bait terakhir, yaitu tiap baris terdiri dari dua periodus, dan tiap periodus terdiri dari dua kata. Jadi, dalam asjak ini yang berkorespondensi adalah perioditasnya dan juga jumlah baris pada tiap baitnya berulang : 4-4 (Pradopo, 2005 :8, 9). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dapat kita simpulkan pula bahwa selain adanya kecenderungan penggunaan irama atau ritma yang berdasarkan kata atau suku kata tersebut, ada &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;ciri lain pada puisi – puisi Rustam Effendi,&lt;/span&gt; yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;unsur      persajakan atau rima sebagian besar berupa aliterasi dan asonansi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;banyak      perbendaharaan kata yang diambil dari bahasa Minang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;dalam      menyingkat kata tampak seenaknya saja, seperti : didengungkan ___      dengungan ; kemudahan ___ madahan; menjadi nekat ___ menekat; mengalun ___      alun, dsb. dengan tujuan hendak memenuhi jumlah suku kata tertentu atau      berhubungan dengan pola persajakan atau rima.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;MAKNA BAIT KE-1&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ia merasa bahwa ia bukanlah orang hebat yang mampu mengubah konvensi syair yang telah ada. Iapun bukan budak di negeri sendiri yang selalu harus menurut dan tunduk pada segala peraturan orang asing, yang secara langsung maupun tidak telah menjajah negerinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;MAKNA BAIT KE-2&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ia hanya merubah sedikit rangkaian seloka lama dengan sentuhan baru tanpa meninggalkan konvensi yang sudah ada. Ia mencoba memberontak konvensi puisi lama itu dengan menyingkirkan beberapa ketentuan – ketentuan dan menyusun karya baru sesuai kata hati serta keinginannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;MAKNA BAIT KE-3&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Terkadang ia merasa kesulitan untuk menyampaikan apa yang ada dalam hati dan pikirannya. Ia hanya bisa menunggu waktu yang tepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;MAKNA BAIT KE-4&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kadang ia merasa susah atau sedih karena kemudahan tidak juga datang. Kadang ia juga kesulitan untuk memberontak karena terikatnya ia dengan peraturan yang tidak jelas faedahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;MAKNA BAIT KE-5&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah orang yang pandai melagukan pantun. Iapun mengakui bahwa ia sebenarnya tidak membuat sesuatu yang baru, melainkan hanya mendengarkan bisikan dari dirinya sendiri dan orang – orang sekitarnya yang ingin membebaskan diri dari keterbelengguan segala hal (penjajah, konvensi dalam membuat puisi, dsb.).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Selain dikenal sebagai sastrawan, Rustam Effendi juga terkenal sebagai seorang yang bergerak di bidang politik kenegaraan. Ia pernah menjadi anggota&lt;i style=""&gt; Tweede Kamer&lt;/i&gt; di negeri Belanda untuk mewakili Partai Komunis di sana, yaitu antara tahun 1933 – 1946. Jadi, tidak heran kalau karya – karyanya berbau politik yang kebanyakan menyindir tentang kebebasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Karangannya yang lain belum ada yang dibukukan, walaupun sesudah kebangkitan Angkatan 66 ia masih sering menulis pada beberapa majalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(204, 102, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; color: rgb(204, 102, 204);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pradopo, Rachmat Djoko. 2005.&lt;i style=""&gt; Pengkajian Puisi.&lt;/i&gt; Yogyakarta : Gadjah Mada University&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Press.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt; color: rgb(204, 102, 204);"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sarwadi, H. 2004. &lt;i style=""&gt;Sejarah Sastra Indonesia Modern&lt;/i&gt;. Yogyakarta : Gama Media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify; text-indent: -27pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;Surana, F.X. 1989. &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt;Materi Pelajaran Bahasa Indonesia (Matbi) 2A.&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 204);"&gt; Solo : Tiga Serangkai.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-7739301537187824419?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/7739301537187824419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=7739301537187824419' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/7739301537187824419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/7739301537187824419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/05/bukan-beta-bijak-berperi-transformasi.html' title='BUKAN BETA BIJAK BERPERI : TRANSFORMASI PUISI MELAYU DENGAN TRADISI BARU'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-5212885567047904479</id><published>2008-05-01T09:44:00.003+07:00</published><updated>2008-05-01T10:10:25.241+07:00</updated><title type='text'>SASTRA</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:6in;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Mh08\LOCALS~1\Temp\msohtml1\03\clip_image001.emz" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Mh08\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.emz" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: arial; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="'width:431.25pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\Mh08\LOCALS~1\Temp\msohtml1\02\clip_image001.emz" title=""&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: arial; font-style: italic;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: georgia; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t170" coordsize="21600,21600" spt="170" adj="7200" path="m@0,l@1,m,21600r21600,e"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="val #0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 21600 0 @0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod #0 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 21600 0 @2"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @1 21600 @0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path textpathok="t" connecttype="custom" connectlocs="10800,0;@2,10800;10800,21600;@3,10800" connectangles="270,180,90,0"&gt;  &lt;v:textpath on="t" fitshape="t"&gt;  &lt;v:handles&gt;   &lt;v:h position="#0,topLeft" xrange="0,10792"&gt;  &lt;/v:handles&gt;  &lt;o:lock ext="edit" text="t" shapetype="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t170" style="'width:235.5pt;" adj="2158" fillcolor="#520402" strokecolor="#b2b2b2" strokeweight="1pt"&gt;  &lt;v:fill color2="#fc0" focus="100%" type="gradient"&gt;  &lt;v:shadow on="t" type="perspective" color="#875b0d" opacity="45875f" origin=",.5" matrix=",,,.5,,-4768371582e-16"&gt;  &lt;v:textpath style="'font-family:" trim="t" fitpath="t" string="MAHABHARATA"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img style="width: 213px; height: 31px;" src="file:///C:/DOCUME%7E1/Mh08/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="MAHABHARATA" shapes="_x0000_i1025" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: arial; font-style: italic;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;h1 style="font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="background: aqua none repeat scroll 0% 50%; font-size: 14pt; color: red; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;EPOS KEAGAMAAN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita Mahabharata merupakan sebuah Epos atau Wiracarita, yaitu cerita yang bersifat kepahlawanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yang dianggap sebagai pengarangnya ialah Wiyasa. Tetapi pendapat lain mengatakan banwa Wiyasa hanya menyusun saja, yaitu menyusun dari bahan yang sudah ada. Alasannya ialah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Perkembangan cerita ini meliputi masa 800 tahun, yaitu dari 400 tahun Sebelum Masehi sampai 400 tahun Sesudah Masehi.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ceritanya tersusun atas 100.000 seloka. Jadi, sangat panjang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; bahasanya bermacam – macam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Isi Mahabharata tidak saja merupakan Wiracarita, tetapi juga bersifat keagamaan. Buktinya ialah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList3" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Menceritakan pertempuran para ksatria, antara keluarga Pandawa dengan keluarga Korawa&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList3" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Puisi keagamaan yang isinya memuja kasta Brahmana&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="background: aqua none repeat scroll 0% 50%; font-size: 14pt; color: red; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;PEMBAGIAN CERITA MAHABHARATA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita Mahabharata terdiri atas 18 bagian. Bagian – bagian itu disebut &lt;span style="color: fuchsia;"&gt;parwa&lt;/span&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;.&lt;/span&gt; Selain itu ada lagi tambahannya yang disebut &lt;span style="color: fuchsia;"&gt;harvamsya&lt;/span&gt;. Nama – nama parwa itu ialah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Adiparwa &lt;/span&gt;: bagian yang pertama&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Sabhaparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang perjudian Yudhistira&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Wanaparwa&lt;/span&gt; :cerita tentang kehidupan kelima Pandawa dalam hutan selama 12 tahun&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Wirataparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang kelima Pandawa di istana Wirata&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Udyogaparwa :&lt;/span&gt; cerita tentang perundingan Kresna dengan Korawa&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Bhismaparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang pertempuran selama 10 hari. Bhisma sebagai panglima perang gugur&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Dronaparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang peperangan hari ke-11 sampai hari ke-15&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Karnaparwa &lt;/span&gt;: cerita tentang gugurnya Karna (anak Dewa Surya) oleh panah Arjuna&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Salyaparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang pertempuran hari terakhir yaitu hari ke-18&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Sauptikaparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang serangan malam terhadap Pandawa. Keluarga Pandawa terbunuh kecuali kelima Pandawa, Kresna, dan Dropadi&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;11.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Striparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang ratap tangis kaum wanita pada waktu malapetaka terjadi&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;12.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Santiparwa&lt;/span&gt; : cerita sisipan, tak ada hubungan dengan cerita sebelumnya&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;13.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Anusasanaparwa&lt;/span&gt; : cerita sisipan dari buku kaum Brahmana&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;14.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Aswamedhikaparwa&lt;/span&gt; : lanjutan cerita ke-11. Yudhistira mengadakan kurban kuda setelah selesai pertempuran&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;15.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Asramawasikaparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang Destarasta mengundurkan diri dan bertapa di hutan, karena kecewa&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;16.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Mausalaparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang binasanya keluarga Kresna dan kembalinya Kresna sebagai Wisnu&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;17.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Mahaprastanikaparwa&lt;/span&gt; : cerita tentang Yudhistira dan Pandawa lainnya masuk surga&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;18.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 153, 255);"&gt;Swargarohanaparwa&lt;/span&gt; : cerita terakhir tentang Pandawa di Surgaloka.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="background: aqua none repeat scroll 0% 50%; font-size: 14pt; color: red; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;MUNCULNYA CERITA MAHABHARATA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita Mahabharata mula – mula dituturkan oleh Rsi Waisamapayana dalam upacara kurban yang diadakan oleh Raja Janamejaya (cucu Abimayu). Upacara itu dihadiri para Brahmana, di antaranya Brahmana Ugraisrawa. Brahmana inilah yang meneruskan cerita ini kepada Rsi dan para pendeta yang berhimpun di Hutan Naimisa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="background: aqua none repeat scroll 0% 50%; font-size: 14pt; color: red; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;RINGKASAN CERITANYA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kerajaan Hastina di negeri Barata memerintah Prabu Syantanu dari keluarga Kuru. Ia sangat gagah dan perkasa. Dengan Dewi Gangga ia berputra seorang bernama Bisma.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada suatu hari Syantanu melihat putri raja nelayan yang cantik bernama Setiawati. Ia iangin memperistrinya. Ayah Setiawati mahu memberikan putrinya asal keturunananya kelak dinobatkan menjadi raja, dan bukan Bisma.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Melihat kedudukan ayahnya, maka Bisma menyetujui permintaan raja nelayan. Ia berjanji tidak akan menuntut haknya atas Kerajaan Hastinapura. Untuk itu Bisma bersedia tidak menikah, supaya tidak ada keturunannya kelak yang mungkin menuntut hak atas kerajaan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Atas pernikahan Syantanu dengan Setiawati lahirlah Tsitragada dan Witsitrawirya. Tsitragada tewas oleh Gandawara. Witsitrawirya menikah dengan dua orang putri raja Ambika dan Ambalika. Tetapi Witsitrawirya meninggal dunia sebelum ada keturunan. Setiawati minta supaya Wiyasa (putranya yang lahir atas perkawinananya dengan Palasara) dapat menggantikan Witsitrawirya sebagai suami Ambika dan Ambalika, agar keturunannya tidak punah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wiyasa seorang Rsi (orang suci) yang kenamaan. Dengan Ambika ia berputra seorang Destarastra. Dengan Ambalika ia berputra Pandu. Destarastra menikah dengan Gandari dan berputra Duryadana dengan 99 orang adiknya. Keurunannya ini disebut Korawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 14.15pt; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pandu menikah dengan Kunthi dan Madi. Keturunan Pandu ini disebut Pandawa. Sebenarnya Pandu tidak ada keturunan. Anaknya itu didapat atas perkawinan istri – istrinya dengan para dewa, yaitu : &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Kunti dengan dewa Darma, lahirlah Yudistira&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Kunti dengan dewaWayu, lahirlah Bima&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Kunti dengan dewa Indra, lahirlah Arjuna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Kunti dengan dewa Surya, lahirlah Karna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Kunti dengan dewa Aswin, lahirlah Nakula dan Sadewa (kembar)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 28.3pt; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah Pandu wafat, tahta kerajaan dipegang oleh Destarasta. Putra – putra Pandu (Lima Pandawa) dididik bersama 100 orang putra Destarastra. Durno (paman Korawa) diserahi tugas mendidik anak – anank itu. Tentu saja Durno lebih suka bila Korawa yang memegang tahta kerajaan kelak. Dicarinya usaha untuk menjatuhkan Pandawa. Diajaklah Duryadana berjudi dengan Yudistira. Sampai – sampai kerajaan Hastinapura yang ditaruhkan. Karena Duryadana selalu mendapat isyarat dari pamannya Durno, maka ia selalu menang. Pihak Pandawa tidak mahu menerima kecurangan itu dan disampaikanlah kepada Destarastra. Destarastra mendamaikan mereka dengan mengembalikan hak Pandawa. Tapi Korawa menolak dan minta supaya perjudian diulang kembali. Kali ini harus ditepati. Pamdawa pun kalah lagi sehingga kerajaan Hastinapura betul – betul harus diserahkan kepada Korawa. Pandawa harus keluar dari Hastinapura, diusir selam 12 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 28.3pt; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pandawa mengembara dalam hutan, menderita, dan melarat. Ketika sedang istirahat dalam sebuah ponok, secara diam – diam pondok dibakar atas suruhan Duryadana, untuk membinasakan Pandawa. Namun Pandawa dapat terhindar dari jebakan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 28.3pt; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada suatu hari mereka sampai di negeri Matsya. Kebetulan raja Matsya sedang mengadakan swayembara (sayembara). Siapa yang dapat mengangkat dan memanahkan sebuah panah yang berat, tepat mengenai sasaran, orang itu akan dijodohkan dengan putrinya yang cantik, dijadikan menantunya. Dengan mudah Arjuna dapat melakukannya sehingga ia dinikahkan dengan putri raja Matsya bernama Dropadi. Begitu juga &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; Pandawa lainnya, dikawinkan dengan Dropadi. Jadi, perkawinan secara poliandri, yaitu seorang istri memiliki beberapa orang suami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 28.3pt; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut perjanjian pada tahun ke-13 para Pandawa harus menghilang di tempat yang telah ditentukan. Namun mereka telah memutuskan untuk bersembunyi di istana Matsya. Setelah berlalu masa 13 tahun, tibalah saat pembalasan dendam kaum Pandawa terhadap Korawa yang diceritakan dalam peperangan 18 hari di Kuru Ksetra (Lapangan Kuru).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 28.3pt; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bagian yang indah dan penting dalam Mahabharata ialah Bhismaparwa (parwa ke-6). Bagian ini menceritakan tentang percakapan Kresna (penjelmaan dewa Wisnu) dengan Arjuna, pahlawan Pandawa, ketika Arjuna diliputi keraguan untuk menggempur saudaranya kaum Korawa, lebih – lebih setelah melihat mayat bergelimpangan dan darah bercucuran. Mendengarkan ucapan –ucapan Wisnu tentang perjuangan menegakkan kebenaran dan hak, maka Arjuna bangkit semangatnya untuk berjuang dengan berbagai taktik penyerangan dan berhasil mencapai kemenangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 28.3pt; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Percakapan Arjuna dengan Kresna (Wisnu) itu disebut &lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Bhagavad Gita&lt;/span&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt; &lt;/span&gt;(Bhagavad=Tuhan ; Gita=madah, nyanyian). Isinya mengenai hak, kewajiban, kebenaran, dan menjauhi hawa nafsu ketika melakukan kewajiban itu. Bhagavad Gita ini terkenal ke seluruh dunia. Sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, misalnya dalam bahasa : Latin, Inggris, Belanda, Jerman, Prancis. Ke dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Amir Hamzah yang dimuat dalam majalah Pujangga Baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 28.3pt; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="background: aqua none repeat scroll 0% 50%; font-size: 14pt; color: red; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;MAHABHARATA SEBUAH KARYA BESAR&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: red;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di Indonesia cerita Mahabharata mendapat perhatian penuh pada zaman kerajaan Hindu. Pada tahun 1000 Raja Darmawangsa menyuruh cerita ini disalin ke dalam Bahasa Jawa Kuno. Pada pertengahan abad ke-12 terbit buku Bratayuda dalam Bahasa Jawa Kuno disusun oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Isinya menceritakan tentang perang besar di Kuru Ksetra.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada zaman kerajaaan Airlangga, Mpu Kanwa menyusun Kakawin Arjuna Wiwaha (1019-1042). Kakawin ini dikenal pula dengan nama Lakon Mintaraga. Buku ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Belanda oleh Prof.Dr. Purbatjaraka, dan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Sanuse Pane.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Isi cerita Gatotkacasraya juga mengambil bahan dari cerita Mahabharata. Cerita – cerita tersebut menjadi hasil kesusastraan Jawa Kuno dan kemudian masuk dan menjadi sastra &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dalam kesusastraan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; kita kenal berbagai judul yang mengandung cerita Mahabharata, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Hikayat Pandawa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Hikayat Pandawa Jaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Hikayat Sang Boma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Maharaja Boma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Hikayat Perang Pandawa Jaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Lang – lang Buan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t154" coordsize="21600,21600" spt="154" adj="9600" path="m0@2l21600,m,21600l21600@0e"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="val #0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 21600 0 #0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @1 1 4"&gt;   &lt;v:f eqn="prod #0 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @3 10800 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @4 10800 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 21600 @2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 1 2"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path textpathok="t" connecttype="custom" connectlocs="10800,@4;0,@6;10800,@5;21600,@3" connectangles="270,180,90,0"&gt;  &lt;v:textpath on="t" fitshape="t"&gt;  &lt;v:handles&gt;   &lt;v:h position="bottomRight,#0" yrange="6171,21600"&gt;  &lt;/v:handles&gt;  &lt;o:lock ext="edit" text="t" shapetype="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t154" style="'width:242.25pt;" fillcolor="#060"&gt;  &lt;v:fill src="file:///C:\DOCUME~1\Mh08\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image002.jpg" title="Paper bag" type="tile"&gt;  &lt;v:shadow color="#868686"&gt;  &lt;o:extrusion ext="view" color="#060" on="t" rotationangle=",-18" viewpoint="-34.72222mm" viewpointorigin="-.5" skewangle="-45" brightness="4000f" lightposition="0,-50000" lightlevel="52000f" lightposition2="0,50000" lightlevel2="14000f" type="perspective" lightharsh2="t"&gt;  &lt;v:textpath style="'font-family:" trim="t" fitpath="t" string="RAMAYANA "&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;img style="width: 141px; height: 28px;" src="file:///C:/DOCUME%7E1/Mh08/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image003.gif" alt="RAMAYANA " shapes="_x0000_i1026" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ramayana sama sifatnya dengan Mahabarata, yaitu Wiracarita dan berhubungan dengan agama. Yang dianggap sebagai penulis ialah Walmiki, seorang rsi yang memelihara putra Rama.&lt;span style="font-size: 26pt; color: rgb(0, 51, 51);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sama halnya dengan Wiyasa, Walmiki dianggap sebagai penyusun saja, dengan alasan :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;perkembangan ceritanya dalam jarak waktu yang lama, yaitu selama 400 tahun. Mulai 200 tahun Sebelum Masehi dan berakhir 200 than Sesudah Masehi.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ceritanya tersusun atas 24.000 seloka. Tiap seloka tersusun atas 28 s. d. 32 suku kata. Jadi, sangat panjang.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ramayana dianggap lebih dari Wiracarita. Orang Hindu menganggap Rama sebagai penjelmaan Dewa Wisnu, sehingga Dewa Wisnu disebut juga Dewa Rama. Sebesar – besar dosa yang dibuat manusia, dapat terhapus dengan mengucapkan Ramantra (Mantra Rama).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(133, 173, 143);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="background: lime none repeat scroll 0% 50%; font-size: 14pt; color: blue; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;PEMBAGIAN RAMAYANA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: rgb(193, 189, 113);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita Ramayana terbagi atas bagian – bagian yang disebut kanda. Semuanya ada 7 kanda, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(133, 173, 143);"&gt;Balakanda&lt;/span&gt; : Cerita pertama tentang Wisnu akan menjelma ke dunia. Ceritanya kebanyakan bersifat mite.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(133, 173, 143);"&gt;Ayodyakanda&lt;/span&gt; : Cerita tentang Raja Dasaratha di Ayodya.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(133, 173, 143);"&gt;Aranyakanda&lt;/span&gt; : Cerita tentang percakapan Barata dengan Rama di Hutan Dandaka mengenai tahta kerajaan.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(133, 173, 143);"&gt;Kiskandakanda&lt;/span&gt; : Cerita tentang Sugriwa raja kera dengan laskarnya.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 153, 153);"&gt;Sundarakanda &lt;/span&gt;: Cerita tentang keindahan kerajaan Langkapura dan pertemua Hanoman dengan Dewi Sita.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(133, 173, 143);"&gt;Yudhakanda&lt;/span&gt; : Cerita tentang peperangan Rama melawan Rawana.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(133, 173, 143);"&gt;Uttarakanda&lt;/span&gt; : Cerita tentang pengucilan Sita (hukuman dari Rama) dan cerita akhir hayat Rama sampai ia menjadi Wisnu kembali.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="background: lime none repeat scroll 0% 50%; font-size: 14pt; color: blue; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;RINGKASAN CERITA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Raja Dasarata di Ayodya mempunyai beberapa istri. Dengan permaisuri ia berputra Rama. Dengan istrinya yang ke-2 bernama Kaikeyi berputra seorang bernama Barata. Putra – putranya yang lain ialah Laksmana dan Satrugna. Putra – putranya ini dididik sebagaimana pendidikan yang diberikan para putra raja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam suatu sayembara Rama mendapat Dewi Sita yang sangat cantik sebagai istrinya. Dewi Sita adalah anak Raja Janaka yang memerintah di Mitila.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada waktu Dasarata sakit ia pernah berjanji kepada Kaikeyi bahwa kelak tahta kerajaan akan diserahkannya kepada Barata, untuk membalas jasa Kaikeyi telah dengan tekun merawatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah Dasarata tua, tahta kerajaan diserahkan kepada Rama. Karena itu Kaikeyi menggugat dan mengingatkan baginda akan janjinya dahulu. Tuntutan ibu tiri Rama itu ialah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Barata harus dinobatkan menjadi raja Ayodya&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Rama harus dibuang dalam hutan selama 14 tahun&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dasarata harus menepati janji sebagai seorang ksatria dan dengan sedih ia menyampaikan keputusan atas tuntutan di atas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rama mengundurkan diri dan mengembara di hutan Dandaka selama 14 tahun bersama itri dan adiknya Laksmana. Hal ini sangat mengharukan rakyat Ayodya yng sangat mencintai Rama. Karena sedih memikirkan hal itu maka mangkatlah Dastarata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada suatu hari Sita dirampas raksasa Wirada. Tetapi raksasa itu dapat dikalahkan Rama dan Laksmana. Pada hari lain Rama berjumpa dengan Surpanaka adik perempuan Raja Rawana yang memerintah kerajaan Langka. Surpanaka jatuh cinta kepada Rama, tetapi Rama tidak mahu tergoda. Begitu pula cinta Surpanaka terhadap Laksmana tidak mendapat sambutan. Bahkan Laksmana mengerat telinga dan hidung Surpanaka karena dibencinya. Surpanaka segera mengadukan halnya kepada Rahwana (Dasamuka = Sepuluh Muka) yang sudah mengetahui kecantikan Dewi Sita. Timbullah keinginannya untuk melarikan Dewi Sita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Raja Rahwana segera memandangi tempat perkemahan Rama dengan pengiringnya Narisa yang dapat menjelma sebagai kijang emas. Narisa menjelma seekor kijang emas dan mendekat ke kemah Dewi Sita. Setelah terlihat oleh Sita, inginlah ia memiliki kijang emas itu dan minta supaya Rama mahu menangkapnya. Sebelum Rama berangkat mengejar kijang emas terlebih dahulu ia membuat lingkaran kesaktian mengelilingi kemah mereka. Siapa yang masuk lingkaran itu tidak dapat keluar lagi. Tapi semua ini diperhatikan dan diketahui oleh Rahwana dari jauh. Setelah Rama jauh dari kemah, mengejar kijang emas, terdengarlah pekikan orang. Sita mengira Rama mendapat bahaya. Segera Laksmana disuruh Sita menyusul abangnya. Mula – mula Laksmana menolak, karena telah dipesan oleh Rama supaya Laksmana tidak meninggalkan Sita, sebelum Rama kembali. Sita lalu menyindir dengan mengatakan “Istri kakak lebih penting daripada kakak sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mendengar sindiran itu, maka Laksmana menyusul abangnya. Rahwana segera menghampiri kemah menjelma seorang peminta – minta berdiri di luar lingkaran kesaktian. Ia mohon agar Sita dapat memberinya air minum karena ia sangat haus. Ketika Sita mengulurkan air minum itulah Rahwana menarik tangan Sita dan langsung dibawanya terbang ke Langkapura (Sailon) tempat kerajaannya. Rama jatuh pingsan setelah kembali, Sita telah hilang dari kemah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di udara burung Jatayu melihat Sita dibawa oleh Rahwana. Jatayu segera menyerang Rahwana. Tapi ia terpukul bagian sayapnya oleh gada sakti Rahwana. Rahwana dengan mudah mengalahkan Jatayu karena ia mempunyai sepuluh muka yang dapat melihat segenap penjuru, selain mempunyai gada sakti. Untung saja Sita sempat melemparkan cincinnya kepada Jatayu. Cincin itu diberikan Jatayu kepada Rama sebagai bukti tenteng Sita, setelah pada suatu ketika Rama sampai di hutan tempat Jatayu jatuh. Jatayulah yang sempat memberitahukan hal Sita, sebelum ia menghembuskan napas terakhir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan pertolongan Kabanda, Rama, dan Laksmana mendapat petunjuk supaya minta bantuan kepada Sugriwa raja kera, untuk menaklukkan Rahwana. Sugriwa mahu membantu asalkan terlebih dahulu ia dibantu menaklukkan saudaranya Walin, yang memusuhinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hanoman panglima raja kera pergi menyusup ke Langkapura untuk memata – matai Rahwana. Ia menyamar sebagai seekor kucing dan berhasil masuk ke istana Rahwana menemui Dewi Sita. Tahulah ia bahwa Dewi Sita tidak kekurangan suatu apapun. Sita sangat gembira berjumpa dengan Hanoman yang juga menyampaikan berita tentang suaminya. Tapi sayang ketika akan pulang ia tertangkap. Hanoman tidak jadi dibunuh setelah ia mengaku sebagai utusan. Sebagai ganti hukumannya, dibakarlah ekornya dengan mengikatkan bahan – bahan yang mudah terbakar. Dalam keadaan ekor terbakar Hanoman melompat – lompat dari bangunan yang satu ke bangunan yang lain yang menimbulkan kebakaran besar di Langkapura. Senanglah hati Rama mendapat kabar dari Hanoman bahwa istrinya Sita tidak diganggu Rahwana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rama mulai menyusun penyerangan. Untung sekali ia mendapt bantuan Wibisana, saudara Rahwana yang menyalahkan perbuatan Rahwana melarikan Sita. Dengan panah Rama yang sakti, terjadilah daratan ke arah Langkapura. Dalam peperangan itu Rahwana tewas dan Rama menang. Langkapura diserahkan kepada Wibisana yang telah membantunya. Akhirnya masa pembuangan 14 tahun selesai. Rama dan Sita pulang ke Ayodya dengan upacara yang diadakan secara besar – besaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="background: lime none repeat scroll 0% 50%; font-size: 14pt; color: blue; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;ANEKA RAGAM CERITA RAMAYANA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam cerita Sri Rama &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, cerita tentang Ramayana ini berakhir dengan kesedihan. Rama merasa curiga terhadap kesuccian Sita. Hal itu karena menurutnya ia ternoda oleh Rahwana di istana Langkapura. Tapi, untuk membuktikan tentang kesuciannya Sita diuji dengan api. Ternyata Sita tidak terbakar dalam kobaran api yang menandakan bahwa ia betul – betul tidak dinodai oleh Rahwana. Tetapi Rama tetap belum percaya. Sita dibuang ke hutan, dan untunglah ia mendapat perlindungan Rsi Walmiki (penyusun Ramayana). Dalam pertapaan Sita diciptakanlah oleh Maharsi anak Sita yang diberi nama Kusa dan Tilawa. Walmiki memperkenalkan kedua, putranya tersebut kepada Rama, yaitu putra yang lahir dari pertapaan Sita. Karena Rama tetap belum percaya, maka Sita berkata, bahwa bumi akan terbuka dan menelannya jika ia sungguh tidak ternoda oleh Rahwana. Maka, terjadilah hal yang demikian., bahwa Sita ditelan oleh bumi. Tinggallah Rama dengan penyesalan dan ucapan “Sungguh suci kau Sita”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rama kembali ke hutan, bertapa, sampai akhir hayatnya., dan ia kembali sebagai Wisnu di keindraan. Tilawa diangkat menjadi raja pengganti Rama di Ayodya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="background: lime none repeat scroll 0% 50%; font-size: 14pt; color: blue; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;RAMAYANA MENJADI SASTRA &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;INDONESIA&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karena eratnya pergaulan bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dengan bangsa Hindu, maka hasil kesusastraan Hindu ini masuk ke dalam sastra &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; dan dengan variasianya akhirnya juga menjadi milik &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Perubahan dari yang semula terjadi karena :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;adanya penyesuaian dengan adat - istiadat dan kebiasaan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;variasi setiap penutur yang menyampaikan cerita ini secara lisan&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam sastra &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; cerita ini lebih dikenal dengan nama &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Hikayat Sri&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Rama&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;.&lt;/span&gt; Sudah tentu banyak perbedaannya dari Ramayana yang semula. Lebih – lebih dalam Sri Rama sudah banyak kita jumpai hal – hal yang berhubungan dengan Agama Islam. Di India pun cerita Ramayana tidak sama. Cerita Ramayana di India Utara berbeda dengan di India Selatan. Menurut Sttuterheim, Ramayana Walmiki, bukanlah tertua di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, karena selain itu banyak lagi cerita tentang Ramayana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ramayana dalam Bahasa Hindu disusun oleh Tulsi Das. Buku ini dianggap sebagai buku agama yang dianut oleh lebih kurang 100 juta orang di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; pula Ramayana yang disusun berbentuk drama yang disusun oleh Kalisada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut pendapat ahli, Ramayana yang masuk ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; bukan Ramayana yang disusun oleh Walmiki, melainkan yang berasal dari India Utara. Oleh Yogiswara, cerita yang masuk dari India Utara ini disalin ke dalam Bahsa Jawa Kuno pada tahun 925. kemudian pada tahun 1900 diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa oleh Prof. Dr. Kern dan diterbitkan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Leiden&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Belanda). Oleh karena banyak yang tidak mengetahui Bahasa Jawa Kuno, maka Yasdipura I menerjemahkannya ke dalam Bahasa Jawa Baru yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt;Hikayat Sri Rama dalam kesusastraan &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="color: rgb(153, 51, 0);" st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);"&gt; ada dua macam&lt;/span&gt;, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList3" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Yang diterbitkan oleh &lt;span style="color: maroon;"&gt;Roorda Van Eysinga&lt;/span&gt; pada tahun 1843. merupakan cerita yang tertua dan tidak banyak bedanya dengan Ramayana Walmiki.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList3" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Yang diterbitkan oleh &lt;span style="color: maroon;"&gt;Shellabear&lt;/span&gt;&lt;span style="color: maroon;"&gt; &lt;/span&gt;tahun 1915. isinya sangat berbeda dengan Ramayana Walmiki.&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lama – kelamaan tokoh Laksmana di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; lebih disenangi daripada Rama, karena Rama mencerminkan orang yang lekas bimbang, kurang berani, dan pencuriga. Sedangkan Laksmana mencerminkan orang yang mahu berkorban, berani, jujur, dan berjasa. Kemudian Laksmana menjadi nama pangkat perwira tinggi dalam Angkatan Laut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Masyarakat &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; lebih menyukai cerita Ramayana daripada Mahabarata, karena pada cerita Ramayana terdapat unsur kesetiaan sesuai dengan jiwa masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Sedangkan pada cerita Mahabarata lebih menonjol unsur pertempuran yang menimbulkan banyak korban. Namun demikian, bagian – bagian cerita Mahabarata tetap disenangi masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Cerita – cerita dalam pewayangan banyak yang berhubungan dengan cerita Mahabarata ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita – cerita dalam Mahabarata banyak dipahatkan di dinding candi &lt;st1:place st="on"&gt;Borobudur&lt;/st1:place&gt; dan candi lainnya. Demikian juga cerita Ramayana, dipahatkan pada candi Prambanan. Pada candi Prambanan terkenal pahatan Larajonggrang, cerita yang terkenal di kalangan penduduk di sekitarnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin-left: 1.5in; text-indent: 0.5in; font-style: italic; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Ashley Crawford&amp;quot;; font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t136" coordsize="21600,21600" spt="136" adj="10800" path="m@7,l@8,m@5,21600l@6,21600e"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="sum #0 0 10800"&gt;   &lt;v:f eqn="prod #0 2 1"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 21600 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @2"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 21600 0 @3"&gt;   &lt;v:f eqn="if @0 @3 0"&gt;   &lt;v:f eqn="if @0 21600 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="if @0 0 @2"&gt;   &lt;v:f eqn="if @0 @4 21600"&gt;   &lt;v:f eqn="mid @5 @6"&gt;   &lt;v:f eqn="mid @8 @5"&gt;   &lt;v:f eqn="mid @7 @8"&gt;   &lt;v:f eqn="mid @6 @7"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @6 0 @5"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path textpathok="t" connecttype="custom" connectlocs="@9,0;@10,10800;@11,21600;@12,10800" connectangles="270,180,90,0"&gt;  &lt;v:textpath on="t" fitshape="t"&gt;  &lt;v:handles&gt;   &lt;v:h position="#0,bottomRight" xrange="6629,14971"&gt;  &lt;/v:handles&gt;  &lt;o:lock ext="edit" text="t" shapetype="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1027" type="#_x0000_t136" style="'width:3in;" fillcolor="#063" strokecolor="green"&gt;  &lt;v:fill src="file:///C:\DOCUME~1\Mh08\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image002.jpg" title="Paper bag" type="tile"&gt;  &lt;v:shadow on="t" type="perspective" color="#c7dfd3" opacity="52429f" origin="-.5,-.5" offset="-26pt,-36pt" matrix="1.25,,,1.25"&gt;  &lt;v:textpath style="'font-family:" trim="t" fitpath="t" string="CERITA PANJI"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img style="width: 151px; height: 27px;" src="file:///C:/DOCUME%7E1/Mh08/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" alt="CERITA PANJI" shapes="_x0000_i1027" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Greeting Monotone&amp;quot;; color: rgb(24, 43, 11);"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Greeting Monotone&amp;quot;; color: rgb(102, 102, 255);"&gt;TIMBULNYA CERITA PANJI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita Panji merupakan cerita Jawa asli. Cerita ini timbul pada zaman Kerajaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Kediri&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; dan Jenggala. Tetapi menurut Prof. Purbacaraka, baru dibukukan (disalin) pada masa Kerajaan Majapahit. Cerita Panji dianggap bersumber dari Kakawin Smara Dahana yang ditulis oleh Mpu Dharmaja. Jadi, ditulis dari Bahasa Jawa Kuno.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hingga sekarang Cerita Panji ini banyak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;macamnya. Tetapi pokok ceritanya sama, yaitu tentang &lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);"&gt;Panji Semirang&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nama – nama lainnya ialah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Hikayat Panji Kuda Semirang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Hikayat Dalang Indera Kusuma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Mesa&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt; Lara Kusuma Cabut Tunggal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Mesa&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt; Urip Panji Jayalelana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Undakan Panurat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Panji Layang Tilam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Dewa Asmara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Endanng Mablt&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Mesa&lt;/span&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Taman&lt;/st1:place&gt; Wilakusuma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Panji Wilakusuma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;11.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Cekel Waneng Pati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;12.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Jaran Kinanti Asmarandana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;13.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 51, 204);"&gt;Hikayat Noyokusumo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di Palembang cerita ini dikenal dengan nama Anggreni. Di Bali dikenal dengan nama Malat. Dalam bentuk syair dikenal dengan nama Syair Ken Tambuhan dan Syair Panji Semirang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Greeting Monotone&amp;quot;; color: rgb(153, 153, 255);"&gt;RINGKASAN CERITA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Raja Daha mempunyai 2 orang putri. Dari permaisurinya lahir seorang putri bernama Galuh Candra Kirana, cantik dan lemah lembut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tutur katanya, membuat orang tertarik kepadanya. Seorang putri lagi bernama Galuh Ajeng, keturunan yang diperoleh atas perkawinandengan selirnya bernama Paduka Liku. Tabiat Galuh Ajeng tidak baik dan selalu iri hati terhadap kakak tirinya Galuh Candra Kirana. Dayang – dayang dan orang – orang istana tidak senang kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Baginda raja mempunyai beberapa orang saudara. Seorang menjadi raja di Kahuripan dan seorang menjadi raja di Gagelang. Seorang lagi wanita, menjadi pertapa di Gunung Wilis dengan gelar Gandasari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Raja Kahuripan mempunyai seorang putra yang tampan dan baik perangainya, bernama Raden Inu Kertapati. Raja Kahuripan ingin supaya putranya menikah dengan putri sebagaimana layaknya menantu raja. Pilihan jatuh kepada putri saudaranya yang cantik, yaitu Galuh Candra Kirana. Dikirimlah raja utusan ke Daha untuk meminang, dan dengan senang hati raja dan rakyat Daha menerima pinangan itu. Paduka Liku saja lah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang tidak senang. Timbul maksud jahatnya menyingkirkan permaisuri serta Galuh Candra Kirana, agar ia dapat menggantikan kedudukan sebagai permaisuri dan Galuh Ajeng dapat dijodohkan dengan Raden Inu Kertapati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada suatu hari dibuat tapai beracun dan disuruhnya seorang dayang memberikan tapai itu kepada permaisuri. Permaisuri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;senang hati menerimanya, karena baru kali itu Paduka Liku megirimkan makanan untuk dia. Selain itu, Paduka Liku menyuruh adiknya minta azimat (guna – guna) kepada seorang pertapa sakti, agar raja sayang kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ketika sedang duduk santai pada sore hari yang sejuk, permaisuri teringat kepada tapai pemberian Paduka Liku. Disuruhnya seorang dayang mengambil apai itu. Baru saja tapai itu dimakan, tiba – tiba badan permaisuri kejang, mata terbelalak dan mulutnya berbusa. Dayang – dayang menjadi panik, menangis dan Candra Kirana menjerit ketika ibunya dalam keadaan demikian. Demikian pula Mahadewi, selir baginda yang satu lagi sangat merasa sedih atas kematian permaisuri. Tergopoh – gopoh baginda datang dan sangat marah kepada Paduka Liku atas bencana yang ditimbulkannya. Namun setelah berhadapan dengan Paduka Liku, baginda berubah sikap menjadi tenang dan tetap ramah kepadanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kabar tentang wafatnya permaisuri Daha sampai ke Kahuripan. Baginda raja Kahuripan merasa kasihan kepada Candra Kirana atas nasibnya itu. Untuk menghiburnya, beginda ingin mengirimkan bingkisan kepada calon menantunya. Raden Inu Kertapati disuruh membuat 2 buah boneka. Satu dari emas dan satu lagi dari perak. Boneka emas dibungkus dengan kain biasa, dan boneka perak dibungkus dengan sutera yang indah. Setelah bingkisan tiba di Daha, Baginda menyuruh Galuh Ajeng memilih lebih dahulu. Kerena tamaknya, diambillah bungkusan sutera&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan yang berbungkus jelek diberikan kepada Candra Kirana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Betapa gembiranya Candra Kirana setelah membuka bungkusan ternyatayang didapatkannya adalah boneka emas yang berkilau – kilauan. Ditimang – timangnya boneka itu dan selalu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibawanya ke mana ia pergi. Akhirnya Galuh Ajeng mengetahui bahwa boneka kakaknya jauh lebih bagus dan ia ingin memilikinya. Atas bujukan Paduka Liku, baginda menyuruh Candra Kirana agar menukarkan boneka itu dengan boneka Galuh Ajeng. Karena Candra Kirana tidak mahu menyerahkan bonekanya, baginda marah. Candra Kirana diusir dan terhuyung – huyung dituntun Mahadewi ke peraduannya, bersama para dayang dan pengasuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keesokan harinya, menjelang subuh Candra Kirana dan pengiring – pengiringnya meninggalkan istana pergi tanpa tujuan. Di perbatasan antara Daha dan Kahuripan, menetaplah mereka, membangun kerajaan kecil dan dengan perseujuan dayang –dayang dialah yang menjadi rajanya. Untuk itu mereka harus menyamar sebagai pria dan ia sendiri mengganti nama dengan Panji Semirang. Untuk memperkuat kerajaan, mereka melakukan perampokan dan memaksa semua orang yang ditahan menetap di tempat itu. Dengan demikian, rakyat makin bertambah dan kerajaan makin kuat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Berita tentang kerajaan yang diperintah oleh Panji Semirang, akhirnya sampai juga ke Kahuripan. Pada waktu utusan raja Kahuripan membawa barang dan uang mas kawin unuk meminang Galuh Candra Kirana, mereka dicega dan dirampok tentara Panji Semirang. Barang rampasan dan uang hanya akan dikembalikan apabila Raden Inu Kertapati datang menghadap Panji Semirang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Betapa heran dan takjub Raden Inu Kertapati memandang Panji Semirang seorang raja yang menarik, simpatik, cantik dengan suaranya lembut merdu. Diadakanlah jamuan di istana Panji Semirang untuk menyambut kedatangan Raden Inu Kertapati. Keesokan harinya, setelah semua barang dan uang dikembalikan, berangkatlah Raden Inu Kertapati beserta rombongan meneruskan pejalanan ke Daha menyerahkan uang jujuran (mas kawin) kepada raja Daha.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Betapa pedih hati Panji Semirag memikirkan kekasihnya akan melangsungkan pernikahan dengan Galuh Ajeng di Daha. Karena itu ia memutuskan hendak pergi menjumpai bibinya, Biku Gandasari di Gunung Wilis dengan brpakaian wanita, untuk minta nasihat. Biku Gandasari sangat terharu mendengar cerita dan derita kemenakannya itu. Ia menganjurkan supaya Candra Kirana pergi ke Gagelang ke tempat pamannya. Karena itu kembali Candra Kirana dan rombongan berpakaian laki – laki dan menyamar sebagai pemain gambuh (pengamen) dengan nama Gambuh Warga &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Asmara&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;. Mereka berkeliling dari &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; sambil ngamen, sampailah ke Gagelang. Semua orang menyenangi permainan Gambuh Warga Asmara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sejak hari pertama pernikahan Raden Inu Kertapati dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Galuh Ajeng&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:state st="on"&gt;ia&lt;/st1:State&gt;&lt;/st1:place&gt; menjadi pendiam, sedih hati, karena diketahuinya bahwa istrinya itu bukanlah Galuh Candra Kirana. Ia merasa teertipu oleh Paduka Liku. Betapa ingin hatinya berjumpa dengan Candra Kirana kekasih yag dicintainya. Untuk menghibur hatinya ia memutuskan berangkat ke kerajan pamannya di Gagelang. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pengiringnya mengatakan bahwa di Gagelang ada rombongan pemain gambuh baik penampilannya. Usul itu dipenuhi karena memang Raden Inu merasa ingin hiburan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Betapa menarik dan mengharukan permainan gambuh itu dan Inu Kertapati curiga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melihat gerak – gerik para pemain gambuh yang luwes bagai wanita. Bahkan ia merasa telah pernah melihat wajah – wajah mereka. Kaarena hari telah larut malam, maka rombongan itu disuruh menginap di dalam keraton di puri pesantren. Di tempat peristirahatannya Candra Kirana mengenakan pakaian wanita dan karena rindu kepada kekasihnya ditimang – timangnyalah boneka emasnya sambil menyanyikan lagu yang merawankan hati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Raden Inu Kertapati ingin sekali mengetahui anggota Gambuh Warga Asmara yang sebenarnya, dengan mengintip di tempat peristirahatan meraka. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat seorang putri menimang – nimang boneka emas yang pernah diberikannya kepada Candra Kirana. Tanpa ragu ia memastikan bahwa sebenarnya wanita itulah Candra Kirana yang sedang dicarinya. Dengan hati yang tak sabar lagi pintu kamar dibukanya dan bertemulah keduanya melepaskan rasa rindu, kasih dan mesra yang telah lama terpendam. Candra Kirana dibawanya ke istana Kahuripan dan menyampaikannya kepada baginda apa sebenarnya yang telah terjadi. Candra Kirana minta maaf atas kekeliruan yang telah diperbuatnya. Dipersiapkanlah segala sesuatu untuk upacara pernikahan resmi antara Raden Inu Kertapati dengan Galuh Candra Kirana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Paduka Liku menjadi kecut hatinya tatkala mendengar berita itu. Raja Daha pun tak mahu memperdulikannya lagi. Ia menyuruh adiknya untuk minta guna – guna kepada pertapa yang pernah diminta pertolongannya. Tetapi sayang di tengah perjalanan adiknya itu disambar petir dan meninggal dunia. Paduka Liku putus asa lalu bunuh diri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Greeting Monotone&amp;quot;; color: rgb(102, 102, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Greeting Monotone&amp;quot;; color: rgb(102, 102, 255);"&gt;PANJI SEMIRANG DI KAMBOJA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;‘Cerita Panji ini dikenal juga di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dan Kamboja. Hal ini membuktikan bahwa sejak dahulu sudah ada hubungan kebudayaan antara &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; dengan Kamboja. Cerita ini dibawa ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; oleh seorang wanita Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut Prof. Purbatjaraka, cerita Panji Semirang yang dibawa ke Kamboja itu dalam tulisan Arab – Melayu. Tulisan ini kurang dipahami oleh orang Kamboja pada waktu itu, sehingga timbul beberapa perbedan nama, misalnya :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Inu (Raden Inu) disebut Eynao&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Gelang (Gagelang) disebut Kalang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Gunung Pucangan disebut Phoum Pachangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Kertapati (Raden Inu Kertapati) disebut Karaspati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoList2" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2 style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: &amp;quot;Greeting Monotone&amp;quot;; color: rgb(102, 102, 255);"&gt;HUBUNGANNYA DENGAN KEPERCAYAAN LAMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut Dr. Rasser cerita Panji ini berdasarkan kepada &lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);"&gt;Totemistische&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);"&gt;Mythe&lt;/span&gt; yaitu hikayat yang berdasarkan kepada kepercayaan lama masyarakat Jawa. Hikayat ini ada persamaannya dengan &lt;span style="color: rgb(0, 204, 255);"&gt;Zonnemythen&lt;/span&gt; yaitu hikayat yang berhubungan dengan dewa matahari pada bangsa Yunani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;CERITA BERBINGKAI&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita berbingkai termasuk cerita lama dan disebut juga cerita bersusun atau roman cyclus. Yang dimaksud dengan cerita berbingkai ialah cerita yang di dalamnya terdapat beberapa cerita yang bersusun. Atau beberapa cerita yang bersusun. Atau beberapa cerita yang berkaitan terdapat dalam sebuah serita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cerita berbingkai yang kita kenal ada 5 macam, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Pancatantra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hikayat 1001 Malam&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hikayat Bayam Budiman&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hikayat Bahtiar&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Hikayat Kalila wa Dimnah&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: center; font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;HIKAYAT PANCATANTRA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hikayat ini berasal dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Panca : &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; ; tantra : cerita. Pancatantra dianggap sebagai sumber cerita binatang. Hikayat ini dikarang oleh Baidaba, seorang muslim &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dikarangnya pada zaman kerajaan Labsyalin dalam Bahasa Sanskerta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Buku cerita terkenal Hitopadesya yang disusun oleh Narajana bersumber dari Pancatantra ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic; color: rgb(204, 102, 204); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;RINGKASAN CERITANYA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seorang raja di Paduli Parum bernama &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sugadarma (Agmarasakti) &lt;/span&gt;mempunyai 4 orang putra yang sangat bodoh dan malas. Sugadarma khawatir siapa yang dapat menggantikan tahta pemerintahannya kelak, jika ia mangkat. Dipanggilnya para Brahma, untuk menanyakan kesalahan atau dosa apa gerangan yang telah diperbuatnya, sehingga ia mendapat putra – putra yang bodoh itu. Ditanyanya pula siapa di antara mereka yang bersedia mendidik anak – anaknya itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akhirnya seorang Brahma bernama &lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Sumasanma (Wisnu Sarma) &lt;/span&gt;menyanggupi akan mendidik dan mengajar putra – putra raja tersebut. Sumasanma hanya mendidik mereka dengan jalan bercerita, yaitu menyampaikan 5 cerita tentang binatang. Cerita – cerita itu mengandung kiasan dan ibarat terhadap kehidupan manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lama – kelamaan sadarlah putra – putra raja itu, sehingga kelakuan mereka berubah menjadi baik, rajin, dan cerdik.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kelima cerita yang disampaikan itu ialah :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;   &lt;/span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Tentang orang yang memutuskan persahabatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lembu Sanjiwaka yang patah kaki tertinggal dalam hutan. Setelah sembuh ia bersahabat dengan seekor singa bernama Pinggalaka. Serigala mulanya mendukung persahabatan itu. Tapi kemudian menghasut persahabatan itu. Akhirnya kedua binatang itu berkelahi habis – habisan sampai keduanya tewas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam bagian cerita ini diselipkan hal – hal mengenai ketatanegaraan, politik, dan pemerintahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; font-style: italic; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tentang orang yang mencari persahabatan&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yang lemah dapat menjadi yang kuat dan dapat mengalahkan yang kuat, jika bersatu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Beberapa ekor burung kena jerat. Kemudian datang seekor tikus sahabat burung memutuskan jerat itu. Burung – burung itu sepakat untuk terbang bersama – sama mengangkat jerat itu, sehingga terhindarlah mereka dari kejaran pemburu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seekor burung gagak melihat kejadian itu, ia mengerti ibaratnya, lalu ikut bersahabat pula. Kemmudian ikut pula bersahabat seekor libi – labi dan seekor rusa. Tatkala rusa kena jerat, datanglah sahabatnya memutuskan jerat dan melepaskan rusa itu. (Cerita – cerita ini mengandung unsur didaktik). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-5212885567047904479?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/5212885567047904479/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=5212885567047904479' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/5212885567047904479'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/5212885567047904479'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/05/sastra.html' title='SASTRA'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-250874437997509853</id><published>2008-05-01T09:37:00.002+07:00</published><updated>2008-05-01T09:44:15.651+07:00</updated><title type='text'>POSMODERNISME</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;    Posmodernisme (pasca modernisme) atau yang sering disebut juga dengan &lt;span style="color: red;"&gt;PoMo adalah&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;menentang gerakan modernisme&lt;/span&gt; dan filsafat – filsafatnya serta kecenderungannya ke arah keanekaragaman, kelimpahan, dan tumpang tindihnya berbagai citraan dan gaya yang satu sama lain tidak saling berhubungan, sehingga menimbulkan fragmentasi, kontradiksi, pendangkalan makna kebudayaan dan sebagai &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;gambaran dari fenomena budaya dalam ruang lingkup dan aspek yang lebih luas.&lt;/span&gt; gerakan kebudayaan yang &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Posmodernisme sebagai suatu gerakan intelektual / kultural yang kontroversial dan merupakan campuran dari keberagaman aliran pemikiran, tradisi, dan masa lalu yang didasari oleh keraguan akan kemampuan modernisme dalam mewujudkan janji – janjinya yaitu masyarakat ilmiah yang adil dan makmur berdasarkan sains telah menjadi suatu fenomena baru yang kemunculannya ibarat sebuah ledakan yang mengaagumkan sekaligus membuat bingung dan cemas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Posmodernitas dipengaruhi oleh pandangan para filsuf, &lt;/span&gt;seperti :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Friedrich Nietzsche&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Martin Heidegger&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Ludwig Wittgenstein&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;John Dewey&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Jacques Derrida&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: fuchsia;"&gt;Richard Rorty&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pemikir tersebut merasa skeptis terhadap pandangan modernitas bahwa teori dapat mencerminkan realitas. Karena itulah mereka lebih berhati – hati dalam memahami kebenaran serta pengetahuan dengan &lt;span style="color: red;"&gt;menekankan bahwa&lt;/span&gt; :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;‘fakta – fakta’ sebenarnya hanyalah ‘tafsiran – tafsiran’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;kebenaran tidaklah mutlak tetapi hanyalah rekaan manusia atau kelompok manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: green;"&gt;semua pengetahuan diperantarai oleh bahasa dan budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bila kaum Modernis percaya bahwa mereka dapat menemukan landasan – landasan kebenaran yang menyatu dan bertautan maknanya, yang secara universal benar dan dapat diterima, maka kaum Posmodernis &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;mengakui keterbatasan pandangan – pandangan, fragmentasi, dan ketidakpastian&lt;/span&gt;. Kaum Posmodernis juga &lt;span style="color: red;"&gt;menolak paham kaum Modernis bahwa individu manusia adalah ‘mahkluk rasional yang menyatu’ seperti pada :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 255);"&gt;Diktum Descartes (Modernitas) : “ Saya berpikir, jadi saya ada “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 255);"&gt;Jean Paul Sartre : “ Individu manusia adalah bebas dan tidak ditentukan, menempatkan individu manusia pada pusat alam semesta. “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebaliknya, kaum Posmodernis tidak menempatkan individu manusia di pusat alam semesta dan &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;mengklaim bahwa ‘diri manusia’ hanyalah efek bahasa, hubungan sosial, dan keadaan tidak sadar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Strukturalisme dan Pos-strukturalisme telah membari sumbangan terhadap Posmodernitas. Strukturalisme muncul di Prancis setelah Perang Dunia II dan dipengaruhi oleh teori semiotika dari ahli bahasa Ferdinand de Saussure. Kaum Strukturalis mencoba menjelaskan fenomena dengan cara mengidentifikasi sitem – sistem tersembunyi (sebagai sebuah sistem tanda yang terdiri atas penanda dan petanda). Sedangkan kaum Pos-strukturalis menggunakan strategi – strategi historis untuk menjelaskan bagaimana kesadaran, tanda – tanda, dan masyarakat – masyarakat secara historis serta geografis memiliki ‘ketergantungan’. Kaum Pos-strukturalis juga menghapus batas – baatas antara filsafat, teori sastra, dan teori sosial. Baik kaum Strukturalis maupun kaum Pos-strukturalis menolak pandangan ‘subjek otonom’, menekankan bahwa tidak seorangpun hidup di luar sejarah. Mereka menekankan bahwa bahasa, budaya, dan masyarakat adlah sewenang – wenang dan secara konvensional merupakan hasil kesepakatan, tidak natural. Kaum Posmodernis &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;dipengaruhi oleh berbagai proyek pemikiran semiotika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terdapat hubungan antara Hipersemiotika dengan Posmodernisme. Hipersemiotika merupakan sebuah kecenderungan yang melampaui semiotika konvensional (khususnya semiotika struktural), yang beroperasi dalam sebuah kebudayaan yang di dalamnya dusta, kepalsuan, kesemuan, kedangkalan, imanensi, permainan, artifisialitaas, superlativitas yang didaulat sebagai spirit utamanya dan menolak kebenaran, otentisitas, kedalaman, transendensi, serta metafisika sebagai penghambat kreativitas dan produktivitas budaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Posmodernisme sendiri &lt;span style="color: red;"&gt;merupakan sebuah kecenderungan seni, sastra, arsitektur, media, dan budaya pada umumnya,&lt;/span&gt; yang merupakan sebuah ruang tempat tumbuh subur serta membiaknya dengan tanpa batas dan pembatas berbagai bentuk hyper-sign di atas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Posmodernisme adalah sebuah ruang hidup bagi kecenderungan hipersemiotika, yang di dalamnya hyper-sign dikembangkan sebagai&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt; bagian&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tak terpisahkan dari budaya komiditi dan budaya konsumerisme kapitalisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Budaya konsumerisme merupakan jantung dari kapitalisme di mana di dalamnya &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;terdapat berbagai dusta, halusinasi, mimpi, kesemuan, artifisialitas, pendangkalan, kemasan wujud komoditi &lt;/span&gt;melalui strategi hipersemiotika dan imagologi yang kemudian dikonstruksi secara sosial melalui komunikasi ekonomi (iklan, show, media, dsb) sebagai kekuatan tanda kapitalisme. Sehingga, pada akhirnya terbentuklah kesadaran diri yang sesungguhnya adalah palsu. Kekuatan hipersemiotika dan hyper-sign merupakan kekuatan utama dari apa yang disebut sebagai wacana posmodernisme seperti dalam arsitektur, desain, sastra, media, iklan, fashion, musik, film, dan berbagai produk kebudayaan lain yang sangat luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Posmodernisme dalam seni dan desain sering dianggap menggantikan Modernisme, tetapi Modernisme tidaklah mati. Dewasa ini, karya – karya seni dan desain Modernis tetap dibuat oleh sebagian seniman dan pendesain. Sedangkan sebagian seniman dan pendesain yang lain lebih suka membuat seni dan desain Posmodernis. Seni dan desain Posmodernis berbeda dengan seni dan desain Modernis, &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;namun unsur – unsur seni dan desain Posmodernis sebagian berasal dari unsur – unsur seni dan desain Modernis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: arial; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kaum Posmodernis percaya bahwa penekanan Marx terhadap kekuatan hubungan – hubungan ekonomi terlalu dogmatik. Mereka juga menyadari keterbatasan penjelasan tentang perkembangan sejarah dan sosial, dan mencoba mengidentifikasi berbagai bentuk kekuasaan dan dominasi. Di arena politik, kaum Posmodernis menganggap Marxisme kuno dan menindas serta tidak relevan untuk era Posmodern.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-250874437997509853?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/250874437997509853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=250874437997509853' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/250874437997509853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/250874437997509853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/05/posmodernisme.html' title='POSMODERNISME'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-9202120740775624933</id><published>2008-05-01T09:25:00.001+07:00</published><updated>2008-05-01T09:33:35.875+07:00</updated><title type='text'>MENULIS KREATIF</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;PROSES KREATIF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Apa sih proses kreatif itu? Ia adalah suatu proses bagaimana sebuah gagasan lahir dan diciptakan oleh seorang penulis menjadi karya tulis. Pada dasarnya ada &lt;b style=""&gt;4 tahap proses kreatif menulis&lt;/b&gt;, yakni :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Tahap      persiapan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; tahu apa yang akan      ditulis dan tahu bagaimana menuliskannya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Tahap      inkubasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; penyimpanan,      pengendapan, perenungan gagasan (Miller : “Jangabn paksa dirimu melahirkan      sebelum waktunya tiba”)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Tahap      inspirasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; saat “Eureke” yaitu      saat &lt;b style=""&gt;tiba-tiba&lt;/b&gt; seluruh gagasan      menemukan bentuknya yang amat ideal. Saat kapan bayi gagasan di bawah      sadar sudah mendepak-depakkan kaki ingin keluar dan bila tidak dikeluarkan      akan mati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Tahap      penulisan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; penuangan gagasan      secara &lt;b style=""&gt;spontanitas&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Tahap      revisi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; rekonstruksi dan      penilaian dari orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Bagaimana menjadi penulis profesional ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;a). punya tujuan yang jelas&lt;span style=""&gt;                     &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;d). punya target penyelesaian yang jelas (deadline)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;b). disiplin kerja&lt;span style=""&gt;                           &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;e). memiliki keilmuan / kompetensi di bidangnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;c). bekerja secara efektif dan efisien&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;f). selalu belajar dan berinovasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;INSPIRASI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: rgb(255, 51, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Inspirasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Dalam konteks tulisan, inspirasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk menuangkan ide / gagasan dalam bentuk tulisan. Inspirasi ada di mana-mana di lingkungan sekitar kita, seperti peristiwa atau kejadian; bacaan berupa buku, koran, dsb ; atau dari obrolan orang, dsb. Untuk mencari inspirasi ada banyak cara, misalnya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;- membaca buku&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;- membaca terbitan berkala&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;- membaca kitab suci&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;- melihat suasana di luar rumah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;- membaca kamus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Saat menemukan inspirasi sebaiknya langsung dicatat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;MENULIS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: rgb(255, 51, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Setelah mengetahui cara memulai dan teknik memberikan nafas ke dalam tulisan, maka Anda siap melangkah ke proses penulisan seutuhnya. Tahap-tahap penulisan adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;1. Persiapan sebelum menulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Pada tahap ini Anda hanya membangun suatu pondasi untuk topik yang berdasarkan pengetahuan, gagasan, dan pengalaman Anda dengan teknik :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;a). pengelompokan (&lt;i style=""&gt;clustering&lt;/i&gt;), yaitu dengan memilah pemikiran-pemikiran yang saling berkaitan dan menuangkannya di atas kertas secepatnya tanpa mempertimbangkan kebenaran atau nilainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;b). menulis cepat (&lt;i style=""&gt;fastwriting&lt;/i&gt;), yaitu menulis apa yang ada dalam pikiran dan membiarkan otak kanan memegang kendali (kreatifitas) untuk melompati “editor” otak kiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;2. Draft kasar (penelusuran dan pengembangan gagasan-gagasan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Saat menulis ingatlah konsep “Menunjukkan bukan memberitahukan”. Tulislah gagasan Anda dengan emosi sebab emosi adalah basis awal dalam menulis. Tulislah dengan penuh kepercayaan diri agar dapat mengalir deras.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;“Menulislah – pada saat awal – dengan hati atau emosi. Setelah itu perbaiki tulisan Anda dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang dirasakan.” –William Forrester-&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;3. Berbagi (mencari umpan balik)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;4. Perbaikan (revisi) (manfaatkan umpan balik)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;5. Penyuntingan (editing) mengenai kesalahan ejaan, tata bahasa, dan tanda baca&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;6. Penulisan kembali berdasarkan hasil penyuntingan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;7. Evaluasi (tahap akhir pemeriksaan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Proses tersebut dapat diputarbalikkan, misalnya Anda dapat melalui tahap 1-4 lalu berputar balik melalui tahap 3 dan 4 sebelum melanjutkan ke tahap 5, 6, dan 7.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Bagi penulis pemula, kadang menulis judul sama sulitnya menulis karangan. Judul adalah kepala karangan. Ia sangat penting sebagai gambaran dari isi karangan. Prinsipnya, judul itu harus pendek, padat, menarik, dan berkesan serta menggambarkan isi karangan. Judul dapat dibuat di awal, tengah, atau akhir proses penulisan. Untuk mendapatkan judul yang menarik dan berbobot Anda dapat mencoba bebrapa cara : (1) menyelesaikan karangan dan (2) membaca judul-judul tulisan yang sudah ada di media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Kiat-kiat memperlancar tulisan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Mulailah      secepatnya saat mendapat inspirasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Putarlah      musik untuk merilekskan pikiran. Menurut penelitian bekerja sambil      mendengarkan musik dapat meningkatkan produktifitas 10-30%&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Cari      waktu yang tepat untuk menulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Lakukanlah      olahraga agar badan segar dan pensuplaian oksigen cukup banyak bagi otak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Bacalah      apa saja untuk membantu bersentuhan dengan kehidupan, penggunaan bahasa,      dan gaya-gaya tulisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Mengelompokkan      pekerjaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Gunakan      warna-warna saat menulis draft kasar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Kiat menghindari hambatan menulis :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Tempatkan      diri pada sisi yang lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;menyingkirlah      dari tulisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;langgarlah      aktifitas rutin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;ganti      alat-alat tulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;ubah      lingkungan Anda&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="color: rgb(51, 153, 255); text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;berbicaralah      kepada teman tentang proyek Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Manfaat menulis :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;dapat menyampaikan pengalaman, keinginan, ideologi, dsb&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;menjaga kesehatan, misalnya mengatasi trauma dan mengencangkan kulit wajah (melepas ion-ion negatif)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;membantu mengingat atau mengabadikan informasi baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;menulis bebas membantu kita saat terpaksa harus menulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;melatih kepekaan dalam melihat realitas karena menulis menimbulkan rasa ingin tahu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;menambah wawasan karena menulis mendorong kita untuk mencari referensi baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;g.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;terlatih menyusun pemikiran dan argumen secara runtut, sistematis, dan logis (makin cerdas)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;h.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;secara psikologis mampu mengurangi tingkat ketegangan dan stres&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sehingga pikiran menjadi jernih dan masalah dapat dipecahkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;i.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;mendapat kepuasan batin bila dimuat di media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;j.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;mendapat imbalan dari menulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;k.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;menjadi popuer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: rgb(255, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Bookman Old Style&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;CERPEN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;Cerpen pada umumnya terdiri atas 3 bagian. &lt;i style=""&gt;Pertama&lt;/i&gt;, bagian awal yang berisi mengenai apa, siapa, di mana, kapan, dan permunculan konflik. &lt;i style=""&gt;Kedua&lt;/i&gt;, bagian tengah yang memaparkan perkembangan konflik menuju klimaks cerita. &lt;i style=""&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, bagian akhir berupa pemcahan konflik. Adapun langkah-langkah yang dapat diambil untuk membuat cerpen antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;mencari atau membuat ide (“pengusutan”)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;membuat kerangka karangan, berupa garis besar atau poin cerita (setting, tokoh, alur, masalah, dan solusi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;menulis cerita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;mengoreksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;; color: rgb(51, 153, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: rgb(255, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; color: rgb(255, 51, 0);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(204, 0, 255);"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(204, 0, 255);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 255);"&gt;Komaidi, Didik. 2007. &lt;i style=""&gt;Aku Bisa Menulis&lt;/i&gt;. &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; : Sabda Media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: rgb(204, 0, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Widyamartaya dan Sudiati. 2004. &lt;i style=""&gt;Kiat Menulis Esai Ulasan&lt;/i&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; : Grasindo.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-9202120740775624933?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/9202120740775624933/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=9202120740775624933' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/9202120740775624933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/9202120740775624933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/05/menulis-kreatif.html' title='MENULIS KREATIF'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-4571648147224732180</id><published>2008-05-01T09:19:00.000+07:00</published><updated>2008-05-01T09:22:09.327+07:00</updated><title type='text'>TOKOH</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(153, 51, 255);"&gt;UTHMAN (644 – 655 M)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 204, 0);"&gt;Judul&lt;span style=""&gt;                       &lt;/span&gt;: Pengantar Sedjarah dan Adjaran Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 204, 0);"&gt;Penyusun&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;: Subardi, Harsojo, Mahmud Junus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 204, 0);"&gt;Tempat terbit&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: &lt;st1:city st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:City&gt; / &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 204, 0);"&gt;Tahun terbit&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: 1961 (Cetakan ke-3)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(0, 204, 0);"&gt;Penerbit&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;: “GANACO” N.V.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;Beliau adalah pengganti Umar. Kepribadiannya mudah dipengaruhi anggota suku sebagai penasihat – penasihatnya, yang menyebabkan ia mendapat banyak lawan. Apalagi setelah Aisyah ikut menentang. Orang – orang Arab di daerah – daerah juga memusuhinya. Meski di bawah pemerintahannya, &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; – &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;Persepolis&lt;/i&gt;&lt;/st1:City&gt; dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;Cyprus&lt;/i&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; jatuh juga di tangannya. Tapi hubungan dengan daerah – daerah yang dikuasai tidak seperti hubungan yang dicapai khalifah – khalifah dulu. Sehingga, menjadikan ketidakpuasan di kalangan tentara. Di dalam negeri timbul huru hara. Partai oposisi di &lt;i style=""&gt;Fustat&lt;/i&gt; yang berpengaruh di Madinah menganujurkan agar rakyat menentangnya. Di samping keadaan yang tidak memuaskan dalam kebijaksanaan pemerintahannya ialah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Pembukaan secara resmi Kitab Al Qur’an. Tindakan ini rupanya disebabkan oleh berlainan pandangan terhadap cara pembacaan sebagian ayat – ayat Al Qur’an yang timbul di kalangan tentara yang pergi ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;Armenia&lt;/i&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;.&lt;/i&gt; Dan agar dapat menjaga persatuan di kalangan umat Islam yang saat itu sangat penting, Usman mengambil keputusan untuk membukukannya secara resmi Kitab Al Qur’an yang dapat diakui oleh umum. Pekerjaan ini diserahkan kepada &lt;i style=""&gt;Zaid bin – Tsabit&lt;/i&gt;, yang dibantu beberapa orang. Lalu setelah mereka ini selesai dengan pembukuan mereka, maka Usman memerintahkan untuk merusak segala kitab – kitab lain yang berisi ayat – ayat Al Qur’an dan mengirimkan salinan dari &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt; – &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; yang telah dibukukan itu ke daerah – daerah yang telah ditaklukkan oleh Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Tentang kebenaran isi dan cara pembukuan itu tak dapat disangsikan, karena disalin dari pengumpulan surat – surat Qur’an yang dilakukan pada masa Abu Bakar, apalagi saat itu masih banyak orang yang hidup pada zaman Nabi, yang hafal ayat – ayat Qur’an yang akan membetulkan pembukuan Qur’an bila pada pembukuan itu terdapat kesalahan. Bahwa musuh – musuh Usman mengakui juga kebenaran akan isi dan cara pembukuan itu, membuktikan bahwa pembukuan itu telah dijalankan sebaik – baiknya. Akhirnya bulan Juni 17, 656 M dalam tengah – tengah pertentangan Usman dibunuh dengan tusukan seorang pembunuh yang beragama Islam. Darahnya mengalir dari badannya dan membasahi Kitab Al Qur’an yang saat itu sedang dibacanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; color: rgb(204, 0, 204);"&gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Kejadian tersebut merupakan permulaan dari rentetan kejadian yang makin lama makin menggenting yang menunjukkan adanya perbedaan antara pusat negara Arab yang diperintah oleh para khalifah dan daerah – daerah pendudukan yang dipimpin oleh kaum militer yang berarti pula bahwa bangun jatuhnya Islam kini ditentukan pula oleh kekuatan – kekuatan di luar daerah kelahiran Nabi . kejadian yang meninggalkan bekas yang sangat mendalam ini berjalan terus di bawah khalifah yang ke-4 yaitu : Ali bin Abu Thalib, menantu Nabi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-4571648147224732180?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/4571648147224732180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=4571648147224732180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/4571648147224732180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/4571648147224732180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/05/tokoh.html' title='TOKOH'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7118373211853936011.post-5497332126104329604</id><published>2008-05-01T09:15:00.001+07:00</published><updated>2008-05-01T09:19:03.604+07:00</updated><title type='text'>WULANG SUNU</title><content type='html'>&lt;h3 style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;NAMA DAN JENIS KESENIAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 42.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Secara etimologi, istilah &lt;i style=""&gt;Wulang Sunu&lt;/i&gt; terdiri atas 2 buah kata, yaitu &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;wulang / piwulang&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ajaran) dan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;sunu&lt;/i&gt; &lt;/b&gt;(anak, bocah, anak didik). Dalam istilah kesenian, wulang sunu berarti ajaran (petuh) tentang kehidupan manusia yang dimulai sejak masih dalam kandungan hingga meninggal dengan segala rangkaian upacara yang terjadi pada dirinya yang diberikan kepada anak, murid, atau siapa saja yang berminat, di mana ajaran tersebut diambil dari buku “Wulang Sunu” tulisan Paku Buwana IV.Wulang Sunu merupakan jenis kesenian tradisional yang disampaikan dalam bentuk tarian dan nyanyian (tembang) rakyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;ASAL DAERAH WULANG SUNU&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Seni Wulang Sunu tidak dapat diketahui asal dan siapa penciptanya sebab tidak ada data-data sejarah atau informasi lainnya yang dapat menunjukkannya. Namun, kesenian ini tumbuh dan berkembang di Kecamatan Grabag, tepatnya di Dukuh Karang, Desa Sumurarum, Magelang, Jawa Tengah. &lt;b style=""&gt;Ciri khas&lt;/b&gt; seni rakyat tradisional Wulang Sunu ialah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Syair nyanyiannya mengambil dari buku ‘Wulang Sunu” tulisan susuhunan Paku Buwana IV&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Penampilan gerak-gerik tari dan tata pentasnya adalah khas daerah Kabupaten Magelang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tabuhan instrumen perkusinya adalah khas garapan Kabupaten Magelang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-weight: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h3 style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;MATERI DAN POLA PENGGARAPAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;a. &lt;b style=""&gt;Pemain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Para pemain umumnya ialah orang-orang pedesaan yang semuanya terdiri dari kaum laki-laki. Para penari (dalam arti merangkap sebagai vokalis), kebanyakan para pemuda berusia sekitar 20 hingga 25 tahun. Pemain musik (penabuh) dan bawa berusia lebih tua, yaitu berkisar antara 30-50 tahun. Jumlah pemain lazimnya terdiri dari :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;a. Penari merangkap vokalis&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;: 18 orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;b. Penari Dewi Sri dan Dayang&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;: 2 orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;c. Pemain musik / penabuh&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;: 5 orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;d. Bawa&lt;span style=""&gt;                                              &lt;/span&gt;: 1 orang (bisa lebih)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;b. Tari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Bentuk tari yang dibawakan adalah berupa gerak-gerak sederhana yang sering diulang-ulang menyesuaikan dengan irama lagu yang mengiringinya. Posisi kakinya sering terbuka tetapi sering pula tertutup, sedangkan posisi lengannya adalah sedang dan rendah. Tarian disajikan dengan posisi duduk, membungkuk (setengah berdiri), dan berdiri. Desain yang digunakan dalam menari sering membentuk garis lurus, berputar, dan 2 lingkaran kecil. Sambil menari, penyanyi menyanyikan lagu yang setiap lagu didahului oleh Bawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;c. Musik / Iringan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Adapun musik / iringan tarinya ialah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Musik vokal, berupa nyanyian (tembang) yang syair-syairnya berisi ajaran mengenai kehidupan manusia sejak berada dalam kandungan hingga meninggal dengan segala rangkaian upacara yang berlaku pada dirinya. Laras yang dipakai adalah Slendro dan Pelog dengan iringan oleh tetabuhan alat-alat perkusi dalam irama dan ritme yang monoton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;d. Alat-alat Musik / Gamelan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Seni Wulang Sunu menggunakan beberapa alat musik / gamelan antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 58.5pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;2 buah terbang kecil (kempling), berfungsi sebagai pengatur irama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 58.5pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;1 buah terbang banggen yang berfungsi sebagai pemangku irama (kempul)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 58.5pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;1 buah terbang besar (jidor) berfungsi sebagai gong&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 58.5pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;1 buah kendang ketipung yang berfungsi sebagai pamurba irama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Adapun alat-alat tersebut dibuat dari bahan kayu, kulit, rotan, dan paku. &lt;b style=""&gt;Bentuk dan cara pembuatannya&lt;/b&gt; ialah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 96pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Terbang&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;, dibuat dari bahan kayu sawo, berbentuk bulat. Pada bagian sisinya yang sebelah, dipasang kulit (biasanya dibuat dari kulit kambing) dan cara memasang kulitnya dipaku dengan paku yang berbentuk seperti pinus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 96pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Kendang berukuran sedang&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;, dibuat dari bahan kayu sawo atau nangka, berbentuk bulat agak panjang (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; 60cm) dan pada kedua sisinya dipasang kulit (biasanya dari kulit kambing). Untuk mengencangkan atau mengendorkan suara, diberi janget dari bahan kulit sapi yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat masuk di antara tebokan (pasangan kulit) dan kayu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Cara menabuh (menimbulkan suara) alat-alat tersebut adalah dengan dipukul (ditabuh) dengan memakai tangan, kecuali terbang besar yang berfungsi sebagai jidor. Pada saat menabuh, alat-alat itu ditaruh di atas kursi yang tidak terpisah dengan lantai / arena tempat menari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;e. Dialog&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 35.45pt; text-indent: 42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;sesuai dengan bentuknya, seni Wulang Sunu ini tidak menggunakan dialog, namun memakai nyanyian (tembang) yang syair-syairnya memakai bahasa daerah Jawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 28.35pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;f. Cerita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 42.55pt; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Seni Wulang Sunu ini sama sekali tidak membawakan cerita apapun, melainkan hanya membawakan gerak-gerak tari sederhana yang diiringi nyannyian dengan syair-syair berisi ajaran yang diambil dari buku “Wulang Sunu” karya Paku Buwana IV.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 28.35pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;g. Urutan Penyajian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 62.35pt; text-indent: -19.8pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pembukaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 63.8pt; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Sebelum pentas dimulai, didahului dengan penyajian tabuhan instrumen secara monoton yang berfungsi sebagai pembukaan dengan tujuan mendatangkan penonton.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 62.35pt; text-indent: -19.8pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;¨&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Penampilan Tarian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Tabuhan dibunyikan, para penari keluar dengan formasi berbaris berbanjar dua. Fungsi tabuhan hanya sebagai pengatur irama jalannya para penari menuju tempat pementasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Apabila para penari telah sampai di tempat pemetasan, tabuhan dihentikan (suwuk). Para penari duduk bersila dengan formasi berbanjar dua seperti pada saat keluar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Lagu pambagya (pemberian salam kepada penonton) dinyanyikan oleh dalang dibarengi dengan tabuhan. Apabila dalang selesai menyanyikannya maka para penari menarikan sembahan sambil menyanyi seperti yang dinyanyikan oleh dalang tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Lagu kedua yang merupakan perkenalan kesenian itu dinyanyikan oleh dalang diiringi tabuhan. Penari masih bersikap duduk bersila. Saat lagu hampir habis, para penari mengambil sikap jengkeng (duduk di atas tumit kiri, tumit yang lain terletak di tanah agak di depan, lutut membentuk sudut &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; 90&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;°&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;. Apabila lagu yang dinyanyikan dalang telah selesai, maka penari menari dalam sikap jengkeng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Lagu ketiga dan selanjutnya dimainkan seperti lagu-lagu / tarian sebelumnya, yaitu didahului oleh dalang kemudian ditirukan oleh para penari sambil menari dalam sikap berdiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pada nyanyian-nyanyian tertentu penari tidak hanya menari di tempat mereka berdiri, melainkan sambil berjalan ke arah depan, belakang, depan lagi, hingga akhirnya formasi barisan kembali seperti semula. Pada nyanyian tertentu pula mereka menari sambil membentuk formasi lingkaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 81.8pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Apabila telah sampai pada syair yang berisikan hal-hal yang bersangkutan dengan soal pertanian, maka ditampilkan peraga Dewi Sri dengan dayang-dayangnya yang kedua-duanya dimainkan oleh pria yang berdandan sebagai wanita. Keduanya menari0nari di tengah lingkaran tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 28.35pt; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;h. Tempat, Waktu, dan Lamanya Pentas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 42.55pt; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Untuk penyajian seni Wulang Sunu ini dapat diselenggarakan di tempat / arena yang berukuran &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; 8 X 6 meter sebab gerakan tarinya tidak begitu banyak memerlukan ruang gerak. Oleh karena itu, seni ini dapat diadakan di lapangan, tanah-tanah kosong, halaman rumah, pendopo, bahkan di ruang depan rumah asalkan memenuhi ukuran tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 42.55pt; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Waktu pementasan biasanya diselenggarakan pada malam hari dan lama pentas tergantung pada kebutuhan / permintaan pihak penyelenggara. Apabila pentas lengkap, dapat memakan waktu hingga semalam suntuk (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt; 7-8jam), yakni antara pukul 21.00 – 05.00, sedangkan kalau tidak lengkap bisa 2-3 jam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;SEJARAH DAN PERKEMBANGANNYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Seni Wulang Sunu tidak dapat diketahui dari mana asalnya dan siapa penciptanya sebab tidak ada data-data sejarah ataupun informasi yang menerangkannya. Namun, kesenian ini yang jelas telah timbul setelah terbitnya buku “Wulang Sunu” karya Paku Buwana IV pada sekitar akhir abad ke-18.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Latar belakang timbulnya seni Wulang Sunu ialah karena pada waktu itu masih jarang ada orang yang pandai membaca dan menulis, lebih-lebih pada masyarakat pedesaan sehingga penyebaran isi (ajaran) buku ‘Wulang Sunu” karya Paku Buwana IV ini mengalami kesulitan. Untuk memudahkan memahami isi buku tersebut, maka penyebarannya dilakukan lewat media kesenian yang kemudian dikenal dengan seni Wulang Sunu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Seni Wulang Sunu yang tumbuh dan berkembang di Dukuh Karang, Desa Sumurarum, Kecamatan Grabag ini lahir untuk pertama kalinya pada tahun 1966 yang dikembangkan oleh Marwan, salah satu pelatih seni Wulang Sunu yang berasal dari Desa Tanduran Kecamatan Secang Kabupaten Magelang ketika ia berusia 60 tahun, atas permintaan warga Dukuh Karang. Pada tahun 1967 untuk pertama kalinya seni Wulang Sunu di bawah asuhan Marwan mengadakan pementasan di halaman rumah Kepala Desa Sumurarum dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan 17 Agustus dengan bentuk dan tata pentas yang sangat sederhana. Gerak tari, pola lantai, kostum, dan tata riasnya masih sangat sederhana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Pada pentas berikutnya, digunakan sebagai hiburan dalam peresmian Musholla, bersih desa atau sedekah bumi (upacara keselamatan bagi penduduk desa) yang dilakukan setahu sekali usai panen, memeriahkan orang yang memiliki hajat (misalnya perkawinan, sunatan, dsb), dan untuk keperluan nadzar (kaul).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Dalam perkembangan berikutnya, seni Wulang Sunu diolah menjadi lebih sempurna. Gerak-gerak tarinya digarap dengan lebih baik. Ketika menari telah banyak menggunakan desain lantai dengan gerakan berputar, 2 lingkaran kecil di samping desain lantai garis lurus yang telah digunakan sebelumnya. Di samping itu, kostum dan tata rias juga mengalami peningkatan. Sehingga, fungsi dalam masyarakatpun mengalami peningkatan. Pada suatu saat pernah ditanggap keluar desa bahkan keluar kecamatan, yaitu di Desa Pucang Kecamatan Secang dalam rangka memeriahkan (hiburan) dalam pelaksanaan hajat khitanan dan untuk kedua kalinya ditanggap pula di desa yang sama dalam rangka memeriahkan upacara penutupan / tamat mengaji (khatam Al Qur’an). Bahkan, pada tahun 1980 dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi 17 Agustus yang diselenggarakan di Kecamatan Grabag telah mendapat Piagam Penghargaan dari Panitia Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus tingkat Kecamatan Grabag.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;SUMBER :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 28.35pt; text-indent: -28.35pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;;"&gt;Proyek Inventarisasi Kebudayaan Daerah Jawa Tengah Khususnya Kesenian Jawa Tengah. 1984. &lt;i style=""&gt;Mengenali Beberapa Seni Tradisional Daerah Jawa Tengah.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7118373211853936011-5497332126104329604?l=bintang2laut.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bintang2laut.blogspot.com/feeds/5497332126104329604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7118373211853936011&amp;postID=5497332126104329604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/5497332126104329604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7118373211853936011/posts/default/5497332126104329604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bintang2laut.blogspot.com/2008/05/wulang-sunu.html' title='WULANG SUNU'/><author><name>@ ini @</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11371100171498060169</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
